Jumat, 26 November 2010

Membudayakan Menulis Bagi Mahasiswa


Membudayakan Menulis Bagi Mahasiswa
Oleh. Anas Maulana

Bagi banyak orang dan bahkan mahasiswa yang terkenal sebagai kaum akademisi, menganggap menulis adalah sebuah hal yang sulit. Kenapa? Mereka biasanya terjebak oleh ketakutan-ketakutan dengan aturan-aturan serta pengharusan sistematisasi ide agar dapat disebut sebagai tulisan yang baik. Akibatnya, belum menulis pun sudah ada bayang-bayang kegagalan tentang hasil tulisannya nanti. Sungguh ironis.
Budaya menulis dikalangan mahasiswa sangat rendah. Mahasiswa hanya akan menulis juka ada tugas-tugas kuliah dari dosen. Sangat jarang dari mereka yang dengan sengaja meluangkan waktunya untuk menulis. Yah minimal menulis untuk diri sendiri dalam buku diari saja sudah bagus. Karena motivasi menulis mereka rendah maka 'copy paste' dari internet menjadi hal yang 'halal' dan sering dilakukan untuk menutupi tugas-tugas kuliah.
Budaya plagiaris di kampus menjadi subur dikarenakan minat menulis mahasiswa rendah. Cara fikir instan meracuni kebanyakan otak mahasiswa. Mereka hanya punya satu orientasi agar tugas kuliah yang membebani dapat terselesaikan secepatnya, tidak peduli dengan caranya apakah hal tersebut plagiat atau tidak. Di era cyber sekarang ini sangat mudah mencari dan menemukan apa saja di internet. Dan sangat mudah bagi mahasiswa untuk berbuat curang dalam penulisan dan pengerjaan tugas kuliah semisal membuat makalah atau karya tulis ilmiah. Mereka cuma klik dan paste dalam dokumen yang baru lalu mengklaim untuk namanya.
Rendahnya budaya menulis mencerminkan rendahnya pengetahuan. Menulis adalah sebuah refleksi ide. Seorang penulis harus tahu setiap jengkal kata yang tercoretkan dalam tulisannya. Kita dapat mengukur bobot wacana seseorang dari produk tulisannya. Namun sekarang banyak muncul mahasiswa-mahasiswa 'kopong' (kosong), walaupun mereka banyak menghasilkan produk-produk tulisan, tetapi mereka tidak mampu untuk menjelaskan konsep-konsep ide di dalamnya karena dalam prosesnya mereka hanya 'mengaku' menjadi penulis tapi bukan 'penulis'.
Rendahnya minat mahasiswa dibidang tulis-menulis ini juga dirasakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) khususnya di kampus penulis STAIN Salatiga mengalami penurunan minat keanggotaan baru . Dari tahun ketahun terjadi penyusutan minat mahasiswa untuk bergabung dalam lembaga ini. Memang banyak faktor yang mendasarinya, salah satunya adalah mahasiswa sekarang lebih bersikap apatis dan praktis dalam proses perkuliahan mereka. Mereka hanya sibuk kulih saja.
Budaya menulis akan ada jika sudah ada setingan budaya membaca. Membaca adalah sebuah proses dialog ide. Ruang-ruang informasi serta transformasi ide terjadi saat proses membaca. Dengan membaca akan terjadi dialog ide yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Pembacaan dapat dilakukan oleh antar generasi, tentunya melalui media tulisan. Bagaimana kita dapat membaca ide masa lalu jika tidak ada dokumennya? Melihat hal tersebut maka budaya menulis menjadi sangat penting.
Budaya menulis adalah cermin budaya maju. Karena memang dalam prosesnya, untuk menulis dibutuhkan komitment untuk pembentukan budaya sebelumnya yang dalam hal ini meliputi budaya mendengarkan, berbicara dan membaca. Untuk dapat menulis kita harus mampu menjadi pendengar yang baik. Karena dengan mendengarkan kita akan mendapatkan informasi tentang hal-hal baru, ide dan gagasan yang dapat kita gunakan sebagai bahan tulisan kita.
Seorang penulis yang baik adalah seorang penutur yang baik. Artinya dalam proses pembuatan tulisan haruslah mampu berkomunikasi dengan pembaca, jangan sampai pembaca kesulitan untuk membaca ide yang kita tawarkan dalam tulisan. Sebuah tulisan ibarat sebuah teks pidato yang akan disampaikan kepada pendengar. Intonasi nada dan kata sangat berpengaruh dalam penyampainnya, maka dari itu pilihan kata dalam sebuah tulisan adalah penting. Berbicarah lewat tulisan seolah yang kita ajak bicara adalah teman diskusi.
Menjadi penting untuk sosialisasi kepada mahasiswa untuk meningkatkan kecintaan pada budaya menulis. Menulis adalah dokomentasi dari sebuah gagasan. Banyak ide-ide dan gagasan terekam dalam buku-buku dan dokumen. Sangat disayangkan jika ide besar tersebut hilang begitu saja dan terputus transformasi ide antar generasi hanya karena rendahnya minat membaca. Mahasiswa adalah salah satu elemen yang paling bertanggung jawab, karena mereka adalah kaum inteletual yang seharusnya akrab dengan buku-buku. Mahasiswa harus menjadi pioner dari terciptanya budaya membaca. Setelah komitment membaca ini terbentuk maka budaya menulis akan tumbuh dengan sendirinya.
Tulisan menciptakan ruang dialog antar generasi. Tulisan menjadi penting sebagai wujud hasil observasi dan penelitian atas suatu hal, ide dan gagasan. Penelitian-penelitian yang terdokumentasikan dalam tulisan akan menjadi sumber dari penelitian selanjutnya. Seseorang dapat berdialog dengan para tokoh besar, seperti Karl Marx, Adam Smith, Ali Syariati, Gus Dur dan banyak yang lainnya dari membaca tulisan mereka. Budaya menulis dapat mendorong mahasiswa untuk melakukan riset pengetahuan secara lebih mendalam.
Saatnya mahasiswa berkata jika menulis itu mudah dan menyenangkan. Banyak hal-hal positif yang dapat diraih dari menulis. Aktifitas menulis akan memperkuat daya ingat kita tentang informasi-informasi yang sedang kita tulis. Dengan menulis kita telah melakukan potret jejak dari pengetahuan yang kita miliki untuk generasi seterusnya. Dengan menulis maka kita akan ditulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar