Rabu, 04 Maret 2009

doa untuk rakyat

“Doa Rakyat” Untuk Pemerintah

- Jangan Bunuh Kami -

Oleh. Anas Maulana

“ Pemerintah itu aneh “ sebuah kata itulah yang mungkin sekarang mewakili kegelisahan-kegelisahan masyarakat di Indonesia,tidak di kota dan tidak di desa,semuanya ikut bingung.Mulai dari kelangkaan pupuk untuk para petani sampai dengan kelangkaan gas LPG dan minyak tanah yang waktu itu pernah terjadi ( mungkin terjadi lagi ) .

Di kota-kota banyak terexpose media tentang kelangkaan gas LPG dan minyak tanah. Hal ini dapat terlihat dari antrean-antrean panjang di pangkalan-pangkalan minyak. Banyak agen-agen gas LPG yang stoknya habis, sehingga distribusi kepada masyarakat menjadi terganggu. Dan sebagai konsekwensinya harga gas menjadi lebih mahal dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Di antara yang ‘bingung’ dan mungkin yang paling bingung adalah ibu-ibu rumah tangga. Mereka seperti kebakaran jenggot ( untungnya mereka nggak punya jenggot ) saat akan memasak untuk keluarganya. Ketika kompor gas mereka habis gasnya, mau menggunakan kompor minyak ? minyak tanahnya masih di antrean. Mau menggunakan arang atau kayu tidak memungkinkan karena memang keadaan rumah di perkotaan kecil dan terlebih untuk dapurnya.” Untung masih ada listrik,jadi minimal kita kan bisa masak nasi,untuk lauknya tinggal beli di warung “,kata seorang ibu rumah tangga di sebuah perumahan di kota Salatiga.Ternyata rakyatnya ikut-ikutan aneh,wong bingung kok masih merasa untung.

Di sebuah pojok warung makan terdengar “ celotehan rakyat “ yang mendiskusiakan tentang kelangkaan gas LPG dan minyak tanah yang pernah terjadi belakangan ini. “ Pemerintah itu aneh,gak bisa buat panutan “kata-kata itu yang keluar berulang kali dari mulut mereka.Saya juga sependapat, karena dulu pemerintah dengan penuh semangat memprogramkan konversi gas LPG. Tetapi setelah terealisasi,rakyat malah yang menjadi repot karena kelangkaan gas LPG. Eh,belum hilang repotnya,minyak tanah ikut-ikutan melangka.

Pemerintah itu kenapa ya kok gak berani mengambil alih aset-aset negara –yang menguasai hajat hidup orang banyak - seperti PT-PT yang mengolah minyak bumi itu,Freepot atau Blok Cepu kok malah di kasihkan “wong asing”.Kalau memang para anak negeri ini belum mampu mengolah,kan bisa belajar ! masak sie dari dulu dari Indonesia merdeka sampai sekarang belum ada ‘anak lokal’ yang bisa mengolah itu ? Hal itu semakin membuktikan bahwa pemerintah itu aneh, gak serius mengurus anak negerinya sendiri dan hal itu melanggar UUD 45, katanya kekayaan bumi Indonesia yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan ‘akan’ dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kesejahteraan rakyat. Tapi anehnya Negara yang kaya akan hasil-hasil alam kok rakyatnya banyak yang miskin, bahkan saya sempat lihat di TV banyak bayi-bayi yang mati karena kelaparan. Sebenarnya ada apa toh Indonesia ini ?”Kata-kata tersebut keluar dari seorang di samping saya,orangnya agak pendek dan kurus. Saya kaget mendengar analisanya, sederhana tapi mengena.

Dari apa yang telah ditulis di atas adalah menarik untuk kita analisa bersama. Pertanyaan sederhana,apa benar Indonesia ini telah merdeka secara utuh ?Ataukah hal itu hanya sebuah impian saja ?Menurut penulis ukuran kemerdekan itu tidak hanya ‘ proklamasi ‘ yang pernah di ucapkan oleh Pak Soekarno, tetapi makna yang ada jauh di dalam pernyataan itu. Kemerdekaan yang pernah terucap itu adalah atas nama rakyat Indonesia itu artinya selama rakyat belum sejahtera dan masih ada ketimpangan social secara nilai Indonesia ini belum merdeka.

Ketika kita sepakat bahwa kesejahteraan adalah ukurannya,lalu pertanyaan selanjutnya adalah seperti apakah ? Dan saat kita coba analisa lebih jauh,sebenarnya hal itu adalah hasil akhir – yang di harapkan – dari proses-proses pemerintahan,yaitu melalui kebijakan,nah apakah kebijakan pemerintah sudah memihak bagi kesejahteraan rakyat ?.Tetapi hal itu bukan satu-satunya yang berpengaruh,masih ada system gerak modal dan pertumbuhan teknologi yang begitu pesat juga hal yang tak kalah berpengaruh,terutama dalam pengambilan kebijakan.

Ketika rakyat dapat mengakses segala kebutuhannya dengan mudah dan bisa terjangkau,maka hal itu bisa dijadikan indikasi kesejahteraan.Tetapi saat ini masih ada pemisahan secara stuktural di segala bidang,baik pendidikan,kesehatan dan system sosial masyarakat kita saat ini yang lebih condong pada anggapan yang barat adalah yang modern – maksud penulis telah terjadi penjajahan cultural -.Sebagai contohnya adalah adanya pemisahan kelas-kelas pengobatan dalam rumah sakit dan masih ada sekolah-sekolah favorit yang tentu saja harganya mahal daripada milik Pemerintah dan para muridnyapun dari golongan elit.Lebih parahnya sekarang telah disahkan UU BHP ( Badan Hukum Pendidikan ) yang diduga akan mengakibatkan sekolah jadi mahal. Lalu bagaimana nasib para miskin kota yang gak punya uang bahkan untuk beli gas LPG untuk masakpun mereka kesulitan? Mungkin mereka akan ‘mati dengan teratur’.

Lain halnya yang terjadi di desa.Para penduduknya yang sebagian besar petani itu di bingungkan dengan kelangkaan pupuk pada waktu yang lalu sempat ‘melangka’,kalau ada,itupun harganya di atas harga patokan dari pemerintah.” Pemerintah itu aneh,nggak serius ngurusi wong tani,Negara agraris kok gak bisa melindungi wong tani “Kata- kata itu keluar begitu saja dari seorang petani yang kebetulan saya ajak diskusi tentang kelangkaan pupuk di kalangan mereka.” Biasanya mas,pupuk akan ‘melangka’ kembali pada saat musim setelah panen,para petani yang waktu itu harus nggarap sawahnya lagi kan butuh pupuk untuk kesuburan sawah dan benih.Anehnya pupuk menjadi sulit dicari,karena barangnya sedikit dan permintaannya banyak,jadi harganya menjadi mahal,kita – para petani – terpaksa menjual hasil panenan kami dengan harga yang ‘ironisnya’malah murah “ tambah seorang petani yang lainnya.

Apa yang terjadi di atas seolah telah menjadi ‘tradisi’ yang selama ini telah membuat pak tani merasa was-was untuk bertani lagi. Mungkin pertanyaan sederhana yang pantas diajukan adalah kenapa hal tersebut dapat terjadi ? Ada apa sebenarnya ini,ataukah memang hal tersebut sudah ada yang ‘mendesaignnya’ menjadi kontruks social ? Artinya memang ada yang mengendalikan distribusi pupuk dan ironisnya pemerintah dalam hal ini bukan ‘ yang berkuasa atas itu ‘ hal itu terbukti dengan adanya kelangkaan pupuk waktu yang lalu.

Wajar jika petani itu kebigungan,kalau tidak ada pupuk tanaman mereka akan menjadi “ cacingan “ karena katanya gak ada nutrisi untuk diserap oleh tanaman. Mereka bertanya-tanya kenapa harga pupuk bisa naik dan langka dan hal itu berulang-ulang seperti siklus.Apakah benar pemerintah sudah tidak becus dalam mengendalikan distribusi pupuk ke desa-desa ? atau “ yang bermain “ adalah para cukong-cukong pupuk – pemodal -sehingga mengakibatkan petani itu menderita.

Yang dibutuhkan rakyat adalah tersedianya kebutuhan mereka dari tercukupinya stok LPG dan minyak tanah sampai pupuk murah untuk petani.Toh mereka juga membelinya dari pemerintah dan tidak mendapatkan gratisan.Lalu apa yang dipermasalahkan pemerintah hendaknya bisa diatasi tanpa mengorbankan masyarakat. Lebih jauh lagi adalah terealisasinya pendidikan yang murah untuk rakyat serta jaminan kesehatan yang tidak memihak.

Pemerintah harus bisa melindungi rakyat dari para cukong – pemodal - yang bermain di balik layar dalam mengendalikan distribusi dan permainan harga,tidak hanya untuk pupuk tetapi meluas hingga kebutuhan pokok lainnya.

Sebenarnya pemerintah adalah harapan besar bagi rakyat untuk kesejahteraan mereka.Tidak sedikit dari mereka yang berdoa untuk pemerintah,bangsa dan negaranya agar terlindungi dari segala bentuk kedzoliman – termasuk menimbun barang pokok yang hal itu dibutuhkan orang banyak – dan terlebih dari konspirasi global yang menghendaki depopulasi ( pengurangan jumlah penduduk ) yaitu dengan cara - pembunuhan sistematis – yang geraknya melalui tiga hal yaitu kebijakan, gerak modal dan positivistic ( iptek ).

Di masa depan,hanya mereka yang bermodal dan menguasai teknologi yang layak hidup,sedang mereka yang saat ini miskin dan bodoh hanya menjadi beban dunia saja yang layak punah – atau memang sengaja dibuat punah - .Sayangnya di Indonesia masih banyak yang miskin dan bodoh dan memang mereka akhirnya mati. Semoga kita tidak menjadi pembunuh bagi sesama.

Identitas Diri

Nama : Anas Maulana

Alamat : Pondok Sendang RT 03 RW 02 Bringin Kab. Semarang

Pekerjaan : Mahasiswa STAIN Salatiga

Jurusan/ Progdi : Tarbiyah Bahasa Inggris ( PBI-A-07 )

Pengalaman Organisasi : - Senat Mahasiswa 2008-2009

- Kord.Litbang HMJ ( Himpunan Mahasiswa Jurusan )

Tarbiyah 2009-2010

Kontak Person : 085697676397