Minggu, 16 Januari 2011

Filsafat Manusia

Filsafat Manusia
Ditulis oleh Aiter dan Billy

________________________________________

----- Original Message -----
From: "Billy Kristanto"
Subject: Filsafat Manusia

PENDAHULUAN
Banyak tulisan modern sarat dengan perasaan absurditas, kebosanan, kemuakan dan ketidak-artian. Bagaimana timbulnya semua perasaan muram ini? Jelaslah antara lain karena dua kali terjadi perang dunia yang disertai badai kekerasan, kebencian serta ketidak-manusiawian dan mengakibatkan korban berjuta-juta, ditambah lagi semua pengungsi dan orang yang kehilangan tempat tinggal. Barangkali yang paling buruk bukanlah kekerasan fisik, melainkan pembusukan kepribadian serta hati nurani karena perang memaksa manusia memainkan peranan-peranan di mana ia tidak lagi mengenal dirinya sendiri dan mengkhianati keterlibatannya. Perang seolah-olah mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menghancurkan kemungkinan untuk bertindak dengan cara yang sungguh-sungguh manusiawi. Pertanyaan yang menarik bagi kita ialah apakah kita sebagai pribadi atau sebagai masyarakat, masih sanggup memberikan suatu makna kepada kehidupan kita. Kita berefleksi tentang diri kita sendiri dan tentang pertanyaan eksistensial ini: apakah hidup kita masih mempunyai makna? Dan kalau masih ada makna yang bagaimana? Dalam tulisan ini kami berusaha untuk menampilkan beberapa filsuf yang representatif berbicara mengenai manusia. Beberapa thema yang penting yang menjadi pokok pembahasan yang digeluti misalnya seperti tentang siapakah manusia (Sokrates), makna tertinggi keberadaan manusia (Plato), esensi atau hakekat manusia (Descartes), eksistensi manusia (Kierkegaard, Sartre), tubuh manusia (Plato, Marcel). Dan akhirnya kami mengakhiri tulisan ini dengan sebuah mini eksegese dari tulisan Paulus kepada jemaat di Roma (pasal 12:1-2) yang menurut hemat kami menjadi jawaban yang mengakhiri semua perdebatan filsuf-filsuf tentang manusia.

PRE-SOKRATES --- SOKRATES
Pada permulaan perkembangan pemikiran filsafat Yunani, tampaknya semata-mata berurusan dengan dunia fisik saja. Kosmologi jelas amat mengungguli penyelidikan-penyelidikan dalam cabang-cabang filsafat lainnya.
• Mazhab Milesian mengembangkan filsafat jasmaniah.
• Mazhab Pythagorean mengembangkan filsafat matematis. Aliran ini berpendapat bahwa unsur-unsur kualitatif kosmos berasal dari unsur-unsur kuantitatif, yaitu bilangan-bilangan. Mazhab ini juga menaruh perhatian yang dalam pada masalah manusia, tetapi terutama dari sudut keagamaan di dalam kelompok tertutup tempat mereka hidup.
• Para pemikir Eleatik menjadi orang-orang pertama yang menggariskan cita-cita logika. Mereka menegaskan bahwa hanya rasio yang dapat membuka jalan ke arah Ada yang benar dan nyata.
• Heraklitos berdiri pada garis perbatasan antara pemikiran kosmologis dan pemikiran antropologis. Dia menolak konsep tentang Ada yang dikemukakan Mazhab Eleatik. Bagi dia, pengenalan indrawi menjadi titik tolak yang terpecaya meskipun ia sangat menjunjung tinggi rasio (logos) sebagai kemampuan untuk mengenal, namun rasio itu sama bergerak dan terlibat dalam proses menjadi seperti segala sesuatu yang ada.
• Protagoras, seorang sofis, mengatakan bahwa bukanlah Ada yang menentukan pengenalan kita, melainkan pengenalan kita yang menentukan Ada. Jadi bukan obyektivisme, melainkan subyektivisme. Oleh sebab itu dia berpendapat bahwa "manusia adalah tolok ukur untuk segala-galanya".

Meskipun mereka tergolong filsuf alam, namun Heraklitos sudah yakin bahwa mustahil menyelami rahasia alam tanpa mempelajari rahasia manusia. Kita harus memenuhi tuntutan akan pengenalan diri bila kita hendak tetap menguasai realitas dan memahami maknanya. Oleh sebab itu Heraklitos menyebut seluruh filsafatnya dengan dua kata edizesamen emeoton ("Aku mencari diriku sendiri"). Namun kecendrungan berpikir yang baru ini, baru matang pada masa Sokrates, sehingga persoalan tentang manusia merupakan patokan yang membedakan pemikiran Sokrates dengan pemikiran pre-Sokrates. Ungkapan Sokrates yang sangat terkenal adalah "kenalilah dirimu sendiri". Manusia adalah makhluk yang terus-menerus mencari dirinya sendiri dan yang setiap saat harus menguji dan mengkaji secara cermat kondisi-kondisi eksistensinya. Sokrates berkata dalam Apologia, "Hidup yang tidak dikaji" adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Bagi Sokrates, manusia adalah makhluk yang bila disoroti pertanyaan yang rasional dapat menjawab secara rasional pula. Menurut Sokrates, hakekat manusia tidak ditentukan oleh tambahan-tambahan dari luar, ia semata-mata tergantung pada penilaian diri atau pada nilai yang diberikannya kepada dirinya sendiri. Semua hal yang 'ditambahkan dari luar' kepada manusia adalah kosong dan hampa. Kekayaan, pangkat, kemasyhuran dan bahkan kesehatan atau kepandaian semuanya tidak pokok (adiaphoron). Satu-satunya persoalan adalah kecendrungan sikap terdalam pada hati manusia. Hati nurani merupakan "hal yang tidak dapat memperburuk diri manusia, tidak dapat juga melukainya baik dari luar maupun dari dalam".

PLATO (427 - 347 SM)
Terjadi titik balik dalam kebudayaan dan pemikiran Yunani ketika Plato menafsirkan semboyan "kenalilah dirimu sendiri" (gnothi seauton) dengan cara yang sama sekali baru. Penafsiran ini memunculkan persoalan yang tidak hanya tidak terdapat pada pemikiran pre-Sokrates, tetapi juga di luar jangkauan metode Sokrates sendiri. Untuk memenuhi permintaan orakel Delphi, untuk memenuhi kewajiban religius berupa pengkajian diri serta pengenalan diri, Sokrates mendekati manusia sebagai individu. Pendekatan Sokrates ini oleh Plato dianggap punya keterbatasan-keterbatasan. Bagi Plato, untuk memecahkan persoalan tersebut kita harus membuat rancangan yang lebih luas. Dalam pengalaman individual, kita menghadapi gejala-gejala yang demikian beraneka, rumit dan saling bertentangan, sehingga kita sulit melihatnya secara jelas. Manusia seharusnya dipelajari dari sudut kehidupan sosial dan politis. Menurut Plato, manusia adalah ibarat teks yang sulit, maknanya harus diuraikan oleh filsafat. Tapi dalam pengalaman kita sebagai pribadi, teks itu ditulis dengan huruf-huruf yang terlampau kecil sehingga tidak terbaca. Maka sebagai tugas pertama, filsafat harus 'memperbesar' tulisan-tulisan tersebut. Filsafat hanya dapat mengajukan teori yang memadai tentang manusia apabila sampai pada teori tentang negara. Dalam teori tentang negara, sifat-sifat manusia ditulis dengan huruf-huruf besar. Dalam teori tentang negara, arti 'teks' yang semula tersembunyi seketika muncul, dan apa yang semula kabur dan ruwet menjadi jelas dan dapat dibaca. Namun negara bukanlah segala-galanya, serta negara tidak mencerminkan dan tidak menyerap seluruh aktivitas manusia, meskipun kegiatan manusia dalam perkembangan sejarahnya berhubungan erat dengan bertumbuhnya negara. Plato bertitik tolak dari manusia yang harmonis serta adil dan dalam hal itu ia menggunakan pembagian jiwa atas 3 fungsi, yaitu:
• Epithymia (suatu bagian keinginan dalam jiwa).
• Thymos, (suatu bagian energik dalam jiwa).
• Logos, (suatu bagian rasional dalam jiwa dan sebagai puncak dan pelingkup).

Menurut Plato, negara diibaratkan sebagai Manusia Besar, sebagai organisme yang terdiri atas 3 bagian atau golongan yang masing-masing sepadan dengan suatu bagian jiwa, yaitu:
• Epithymia, golongan produktif yang terdiri dari buruh, petani, dan pedagang.
• Thymos, golongan penjaga yang terdiri dari prajurit-prajurit.
• Logos, golongan pejabat yang memegang pucuk pimpinan dan kekuasaan.

Plato juga mengajarkan teori tentang pra-eksistensi jiwa. Dia mengatakan sebelum kita dilahirkan, atau sebelum kita memperoleh suatu status badani, kita sudah berada sebagai jiwa-jiwa murni dan hidup di kawasan lebih tinggi di mana kita memandang suatu dunia rohani. Sejak kita dilahirkan, kita berada di bumi dan jiwa kita meringkuk dalam penjara tubuh, terbuang dari daerah tinggi itu. Karena penjelmaan dalam tubuh itu, jiwa kita tidak lagi menyadarkan diri dan dengan mendadak tidak lagi menyadari pengetahuan tentang idea-idea dalam dunia kayangan dulu. Dari sini Plato kemudian mengembangkan teori tentang manusia. Manusia pada mulanya adalah roh murni yang hidup dari kontemplasi akan yang ideal dan yang ilahi. Jadi, kemungkinan dan makna ultimate keberadaan manusia mula-mula terletak dalam kehidupan yang berkaitan erat dengan yang baik, yang benar, dan yang indah. Tetapi kita gagal mencapai kehidupan yang sebagaimana mestinya karena kita menyimpang dari kiblat idea-idea tersebut, sehingga kita langsung terhukum dengan dipenjarakannya jiwa ke dalam tubuh. Kita harus berusaha naik ke atas dan memperoleh perhatian dan cinta besar untuk dunia ideal dan ilahi itu. Akan tetapi kemungkinan untuk mewujudkan makna ini sangat dibatasi karena kita terbelenggu dalam materi. Bagi kita, dunia jasmani dan tubuh menjadi kemungkinan-kemungkinan buruk untuk tersesat lebih jauh lagi dan tenggelam dalam rawa-rawa materi dan sensual. Kemungkinan yang paling jahat ialah menyerahkan diri sepenuhnya kepada dirinya sendiri (egoisme radikal) dan kepada benda-benda jasmani (materialisme dan sensualisme). Jadi, bagi manusia, dunia dan tubuh itu bersifat ambivalen, artinya dunia serta tubuh dapat merayu dia ke arah kemungkinan-kemungkinan yang jahat, tetapi dapat juga mendorong dia kepada kemungkinan-kemungkinan yang baik. Manusia memiliki suatu daya yang kuat dan gemilang yang dapat mendorong dia ke atas, yaitu cinta (eros). Eros adalah daya kreatif dalam diri manusia, pencetus kehidupan, inspirator para penemu, seniman dan genius. Eros memenuhi kita dengan semangat kebersamaan, membebaskan kita dari kesendirian kita, dan mengajak kita ke pesta, musik, tarian, dan permaian. Plato menyebutnya sebagai "bapak segala kehalusan, segala kepuasan dan kelimpahan, segala daya tarik, keinginan dan asmara". Eros mendorong kita semakin tinggi, sehingga kita dapat beralih dari cinta yang kelihatan kepada cinta yang tidak kelihatan, ideal, ilahi. Menurut Plato, kematian hanyalah permulaan suatu reinkarnasi baru yang lebih rendah atau lebih tinggi daripada keberadaannya sebelumnya. Dalam karyanya: Phaidros, Plato berkata bahwa setelah 10.000 tahun, jiwa akan kembali ke asal usulnya. Jadi menurut pandangan Plato, manusia mempunyai banyak jiwa dan banyak manusia individu.

RENE DESCARTES (1596-1650)
Filsafat Rasionalismenya membawa dampak terhadap pandangan tentang manusia. Pemikiran-pemikiran penting dalam filsafatnya:
• Ada dua bentuk realitas yang berbeda, dua "substansi". Yang pertama adalah gagasan (res cogitan), atau "pikiran", dan yang kedua adalah perluasan (res extensa). Pikiran itu adalah kesadaran, tidak mengambil tempat dalam ruang. Materi adalah perluasan, mengambil tempat dalam ruang dan tidak mempunyai kesadaran.
• Kedua substansi tersebut tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Pikiran sama sekali tidak tergantung pada materi, sebaliknya proses materi juga tidak tergantung pada pikiran à dualisme.
• Manusia adalah makhluk ganda yang mempunyai pikiran dan badan perluasan. Apa yang kita pikirkan dengan akal kita tidak terjadi di dalam badan - itu terjadi di dalam pikiran, yang sama sekali tidak tergantung pada realitas perluasan. Namun Descartes tidak dapat menyangkal bahwa ada interaksi konstan antara pikiran dan badan. Interaksi konstan berlangsung antara "roh" dan "materi". Pikiran dapat selalu dipengaruhi oleh perasaan dan nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan badaniah. Namun pikiran dapat menjauhkan diri dari impuls-impuls 'tercela' semacam itu dan bekerja tanpa tergantung pada badan (jika aku merasakan sakit yang amat-sangat pada perutku, jumlah sudut dalam sebuah segitiga tetap 180 derajat. Maka manusia mempunyai kemampuan untuk bangkit mengatasi kebutuhan-kebutuhan badaniah dan bertindak secara rasional. Dalam hal ini pikiran lebih unggul daripada badan.

SÖREN KIERKEGAARD (1813-1855)
Sebagai Bapak Eksistensialisme, pandangan filosofis Kierkegaard tentunya banyak membahas tentang manusia, khususnya eksistensinya. Beberapa point yang penting dalam filsafatnya:
• Individu tidak ditempatkan di hadapan Ketiadaan, melainkan di hadapan Tuhan.
• Dia menganggap Hegelianisme sebagai ancaman besar untuk individu, untuk manusia selaku persona.
• Yang harus dipersoalkan terutama subyektivitas dari kebenaran, yaitu bagaimana kebenaran dapat menjelma dalam kehidupan individu. Kebenaran obyektif - termasuk agama - harus mendarah daging dalam si individu.
• Yang penting ialah bahwa aku memahami diriku sendiri, bahwa kulihat dengan jelas apa yang Tuhan kehendaki sungguh-sungguh agar aku perbuat. Yang terutama kubutuhkan ialah mendapatkan suatu kebenaran yang adalah benar untuk aku, suatu ide yang bisa mengilhami kehidupan dan kematianku. Apakah gunanya menemukan suatu kebenaran yang disebut obyektif dan mempelajari semua sistem filosofis . Sejauh mana ada baiknya bagiku dapat menjelaskan arti agama Kristen bila agama itu tidak mempunyai arti mendalam untuk aku sendiri dan kehidupanku ." Kierkegaard mencari
kebenaran yang konkret serta eksistensial, suatu pengetahuan yang dihayati (connaissance vécue), a real knowledge.
• Dia membedakan manusia dalam stadium estetis, etis dan religius.
• Pada stadium estetis manusia membiarkan diri dipimpin oleh sejumlah besar kesan-kesan indrawi, mengikuti prinsip kesenangannya, lebih dijadikan hidup daripada ia hidup sendiri. Manusia menyibukkan diri dengan rupa-rupa hal, tetapi ia tidak melibatkan diri; ia hanya tinggal seorang penonton yang berminat. Ia bisa menjadi seorang hedonis yang sempurna, seorang "perayu" seperti Don Juan, atau seorang yang "sok tahu" dan seorang Sofis (mis. Mendalami filsafat dan teologi).
• Kebosanan, kekurangsenangan dan kecemasan memimpin seseorang ke arah stadium etis. Mulai mekar keinsafan akan kemungkinan-kemungkinan kita, akan kebebasan, tanggung jawab dan kewajiban kita. Kita sampai pada diri kita sendiri, menggantungkan kehidupan kita pada norma, bertumbuh menjadi persona. Kita semakin mengikat diri, dari penonton menjadi pelaku, kita melibatkan diri. Dalam stadium ini juga, manusia menyadari keadaannya yang tragis dan bercacat; ia menginsafi bahwa ia penuh kekurangan. Ia akan merasa jengkel karena ketidaksempurnaannya serta ketidaksanggupan morilnya dan mungkin akan memberontak terhadap seluruh tatanan etis.
• Manusia bisa merasa dirinya kecil dan tidak berdaya sambil mendambakan topangan serta bantuan Tuhan, yang mengulurkan tangan-Nya untuk membantu manusia yang terkoyak-koyak (bandingkan Mat 5:3). Bila kita menangkap tangan ini dan membuka diri untuk Tuhan, maka kita tiba pada stadium religius. Sebagai orang Kristen - ia berani menerjunkan diri ke dalam petualangan untuk - dengan ketidakpastian intelektual yang besar - mempertaruhkan seluruh jiwa raganya demi mengikuti jejak Kristus. Iman kepercayan Kristiani itu bersifat paradoks, sebagaimana Kristus merupakan Paradoks besar yang mempersatukan keabadian serta keduniawian, keilahian serta kemanusiawian. Hidup sebagai Kristen adalah cara hidup tertinggi yang merupakan kemungkinan ultim dan makna keberadaan manusia.

GABRIEL MARCEL (1889-1973)
Salah satu thema utama dalam filsafatnya adalah mengenai tubuh. Beberapa hal yang penting:
• Masalah mengenai "mempunyai" dan "Ada" dikaitkan dengan tubuh. Saya mempunyai tubuhku atau saya adalah tubuhku? Tubuhku bagi saya bukan obyek, melainkan selalu melibatkan pengalaman saya sendiri tentang organisme fisis-kimiawi, inilah yang ingin diselidiki oleh Marcel.
• Analogi "saya mempunyai tubuhku" dengan "saya mempunyai anjingku" harus dihentikan karena tiga aspek: 1) antara saya dan tubuhku tidak terdapat struktur qui-quid (subyek yang mempunyai dan yang dipunyai) seperti antara saya dan anjingku; 2) tubuh tidak berada di luar saya seperti halnya dengan anjing; 3) saya tidak merupakan "yang lain" terhadap tubuhku seperti saya memang merupakan "yang lain" terhadap anjingku.
• Tubuh bukanlah alat. Martil berada antara tukang kayu dan papan yang sedang dikerjakan. Tubuh tidak berada antara aku dan apa yang sedang dikerjakan. Bila saya menulis, tubuh tidak berada antara "aku" dan kertas.
• Tubuh adalah "alat absolut", artinya alat yang memungkinkan alat2 tetapi tidak merupakan alat bagi sesuatu yang lain.
• Tubuh adalah "prototipe" di bidang "mempunyai", yang memungkinkan untuk mempunyai tetapi tidak dipunyai oleh sesuatu yang lain.
• Sekalipun demikian saya tidak identik begitu saja dengan tubuhku. Tetapi jelas penengahan antara saya dan tubuhku tidak bersifat instrumental. Marcel menyebutnya sympathetic mediation: penengahan pada taraf "merasakan" (sentir). Saya adalah tubuhku, hanya sejauh saya adalah makhluk yang merasakan.
• Proses "merasakan" harus dimengerti sebagai suatu "message" dari luar yang diterima di dalam subyek. Garis pemisah yang ditarik antara "di luar" dan "di dalam" harus ditolak karena "menerima" dalam hal perasaan tidak pernah sama dengan "menerima semata-mata pasif". "Menerima" di sini harus dimengerti sebagai partisipasi, membuka diri, memberikan diri; "menerima" seperti tuan rumah menyambut tamu-tamunya. "Merasakan" berarti menerima dalam wilayah yang merupakan wilayah saya.
• "Inkarnasi" manusia hanya mungkin karena dengan tubuhku saya berada dalam dunia, bukan saja dalam arti bahwa saya dapat mempengaruhi benda-benda, tetapi juga dalam arti bahwa saya terpengaruhi oleh benda-benda. Dualisme antara "di luar" dan "di dalam" harus ditinggalkan. Inkarnasi itu merupakan titik tolak refleksi filosofis dan bukan cogito atau kesadaran.

JEAN PAUL SARTRE (1905 -1980)
Manusia merupakan suatu proyek ke masa depan yang tidak mungkin didefinisikan. Manusia adalah sebagaimana ia diperbuat oleh dirinya sendiri. Ia adalah masa depannya. Moral dan etika harus diciptakan oleh manusia sendiri. Kita adalah kebebasan total, "kita dihukum untuk bertindak bebas". Inilah kemegahan dan sekaligus kemalangan bagi kita, sebab kebebasan mengandung juga tanggung-jawab. Kita bertanggung-jawab atas seluruh eksistensi kita dan bahkan kita bertanggung-jawab atas semua manusia karena terus-menerus kita adalah manusia yang memilih dan dengan memilih diri kita sendiri, kita sekaligus memilih untuk semua orang. Dari tanggung-jawab yang mengerikan ini lahirlah kecemasan atau keputus-asaan. Kita berusaha meloloskan diri dari kecemasan serta keputusasaan itu melalui sikap malafide (mauvaise foi) serta keikhlasan (sincerite), dengan berlagak seolah-olah kita bisa ada sebagaimana seharusnya kita ada dan secara diam-diam menyisipkan suatu identifikasi antara en-soi (Ada-pada-dirinya) dan pour-soi (kesadaran kita).

Mungkinkah kehidupan manusia tanpa Tuhan? Apakah hidup manusia masih mempunyai makna? Secara obyektif kehidupan kita memang tidak mempunyai makna sedikitpun dan absurd sama sekali. Kita tidak mempunyai alasan untuk berada. Manusia merupakan une pasion inutile, suatu gairah yang tidak berguna. Namun kita bisa memberi makna kepada kehidupan kita dan dengan itu kehidupan manusiawi sebetulnya baru menjadi mungkin. Jadi seorang manusia dapat memberi makna kepada keberadaannya dengan merealisasikan kemungkinan-kemungkinan yang ada, dengan merancang dirinya. Sartre pernah menyebut orang lain "neraka", tetapi kemudian ia menginginkan suatu ikatan dan ia menemukan orang lain sebagai syarat untuk eksistensinya sendiri. Untuk memperoleh kebenaran tentang diri saya sendiri, saya memerlukan orang lain. Jadi Sartre yang sebagai atheis ingin menciptakan suatu way of life yang baru, yaitu semacam moral manusiawi yang baru. Karena saya terikat dengan orang lain, maka kebebasan saya harus memperhitungkan juga kebebasan orang lain itu. Saya tidak boleh membuat kebebasan saya menjadi tujuan tanpa membuat hal yang sama dengan kebebasan orang lain. Setelah semua manusia mati, seluruh sejarah umat manusia dapat disingkatkan dengan mengatakan, "begitulah manusia". Akan tetapi, siapakah yang dapat mengetahui serta mengatakan hal itu karena tidak ada lagi manusia? Selama masih ada manusia hidup, selalu terlalu pagi untuk mengatakan "begitulah manusia". Bagi manusia individu, kemungkinan ultimate adalah kematian, tetapi kemungkinan ultimate seluruh umat manusia tidak kita ketahui.

RASUL PAULUS
Kita akan mengkonsentrasikan pandangan Paulus, khususnya dalam suratnya kepada jemaat di Roma (pasal 12:1-2). Di sini Paulus mengaitkan tubuh (sebagai persembahan yang hidup kepada Allah), keberbedaan kita dengan dunia, pembaharuan budi dan mengetahui kehendak Allah (yang baik dan sempurna).

• Berbeda dengan Plato dan Descartes yang cenderung melihat tubuh sebagai penjara jiwa, yang seringkali menghalangi akal sehat yang seharusnya memimpin, berbeda juga dengan Marcel yang cenderung memberhalakan tubuh sebagai "alat absolut" yang tidak dijadikan oleh sesuatu apapun yang lain, maka Paulus menasihatkan kita untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup kepada Allah. Di sini kita melihat pandangan yang positif tentang tubuh (bukan sesuatu yang jahat), sekaligus dilarang untuk memberhalakannya, karena Allah sebagai Pencipta tubuh kita berhak untuk memakainya, bahkan "mempunyainya" sebagai "alat" di tangan-Nya.

• Berbeda dengan Marcel yang mengatakan bahwa kita seharusnya terbuka terhadap setiap "message" dari luar yang diterima (dirasakan) oleh tubuh, terpengaruhi oleh benda-benda dlsb, Paulus mengatakan agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Permasalahannya di sini bukanlah bahwa kita harus memiliki satu sikap eksistensial berani ditransformasi oleh segala sesuatu "yang lain", melainkan pertanyaan "apa yang mentransformasi kita?" Alkitab mengatakan bahwa transformasi itu terjadi dalam "pikiran" (mind) yang mengenal kehendak Allah. Transformasi pikiran inilah sebenarnya yang dikejar dan didambakan oleh Plato dan yang disebutnya sebagai "kontemplasi akan yang ideal dan yang ilahi". Alkitab tidak pernah mengajarkan agar kita memberikan diri untuk ditransformasi oleh apa saja (asal bersedia ditransformasi), melainkan bahwa yang mentransformasi kita adalah firman Tuhan. Transformasi yang dikerjakan oleh firman Tuhan membuat kita semakin mengerti dan mengenal kehendak Allah. Di sini kita melihat bahwa Alkitab menghendaki pengertian pikiran kita (understanding of our mind) terus-menerus disempurnakan, sehingga menjadi orang kristen yang berkenan kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari mengerti dan memikirkan apa yang kita percaya karena di situlah transformasi itu terjadi. Sebagaimana dikatakan oleh John Piper, orang kristen seharusnya menjadi seseorang yang memiliki "a mind in love with God". Mind corresponds to the understanding of the truth of God's perfections. Love corresponds to the delight in the worth and beauty of those perfections. God is glorified both by being understood and by being delighted in. He is not glorified so much by one brand of evangelicals who divorce delight from understanding. And he is not glorified so much by another branch of evangelicals who divorce understanding from delight (John Piper, God's Passion for His Glory. Wheaton: Crossway Books, 1998, p.82).

• Plato mengatakan bahwa kemungkinan dan makna ultimate keberadaan manusia mula-mula terletak dalam kehidupan yang berkaitan erat dengan yang baik, yang benar, dan yang indah. Paulus mengatakan bahwa mengetahui dan dapat membedakan kehendak Allah adalah apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Plato secara samar-samar memiliki pengertian tentang makna ultimate keberadaan manusia, namun Pauluslah yang dipercayakan Tuhan untuk menyatakan apa yang baik itu, yang benar, yang indah, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna yaitu mengetahui kehendak Allah. Dengan mengetahui kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya manusia menemukan makna ultimate keberadaan dirinya.

Soli Deo Gloria!

Sumber: gettech.tripod.com/ARSIP/filsafat.htm

Jumat, 26 November 2010

short story


Adam Kamiński


The Girl from the Train


translated by Antonia Lloyd-Jones

Once he was already sure his idea for the paper was a good one, and that it made sense to write it as long as he could get to the unifying crux of the matter, find the ultimate whole that definitely did exist, but no one had yet pointed out on this topic, she entered the compartment. She was quite tall and well built, which might not have been appealing, if she hadn’t also had something so supple and snake-like about her that the moment her thighs – hardly covered by her denim mini-skirt – appeared just in front of his nose, it took his breath away, maybe even stopped it, because only when it was clearly repeated did the question: “Are you going to help me with my suitcase or not?” get through to him like a remote echo. Instantly he leaped up and blurted: “I’m sorry, yes, of course…. I was miles away,” and placed her black bag on wheels on the luggage rack.
The girl gave a forgiving smile, as if she were used to this sort of situation, thanked him and, still smiling, sat down opposite. Now he could take a better look at her. Giving the impression of being extremely light yet ample, her breasts and hips prompted vague, pleasant associations. Her face was well suited to the build of her body – she had the features of a charming country lass whom city style had done no harm, but rather given her some refinement. She must have been twenty-something, but she exuded the freshness typical of girls who are only just maturing.
It wasn’t seemly to stare for too long, so he looked down at the keyboard, though he already knew his work was at an end. He bid farewell not only to the possibility of finding the crucial element for his text, but even of noting down the thoughts that had occurred to him in the last quarter of an hour or so. And all for the simple reason that since childhood he had got into the habit of only doing creative work in solitude.
Even before he started going to school, his mother used to leave him at the table in the family library with books and notepads, and only let him come and find her once he reckoned his work was finished. This lack of anyone else’s help, or even their presence, was supposed to teach him independence, but at the same time it did him some serious harm. Throughout his school years he had serious problems doing exercises among his peers, and the longer, written assignments, which he did more and more confidently, only started to be appreciated once he was studying humanities at university. One way or another, he regarded this feature of his as more of a curse than a gift, and wondered if he would ever manage to break free of it.
As he boarded the train, he had been planning to do some work. But although he sought out an empty compartment, it seemed likely that his solitude wouldn’t last for ever. In all honesty, however, he realised he could have had much worse luck. After all, the trains weren’t exactly lacking in tramps, drunks, harridans and other weirdoes capable of effectively spoiling the journey. Now as he gazed at the warm blonde, he accepted the fact that he wouldn’t get any work done, but he might at least have the satisfaction of relaxing in pleasant company.
He put his laptop on the seat next to him, settled a bit more comfortably, and gradually let his eyes close before the girl’s gently parted thighs. But at this point there was a nice surprise waiting for him. Although his eyelids were quite tightly shut, the thighs did not disappear at all – on the contrary, briefly but intensely they shuddered, rippled, and let loose all the bizarre creatures he had just been trying to write about in the context of feminine symbolism in the beliefs of the ancient coastal tribes. He saw those smiling mussels, modest molluscs, delicate oysters, lively octopuses, shining starfishes and snails with shells in the most varied shapes and colours appearing one after another; after a brief moment of confusion, they began to move around their birthplace in a lively procession, in which each went on spinning, wiggling and turning extra somersaults on its own. It didn’t take him long to realise it was a sort of dance – not an ordinary one for a dancer, but an important, meaningful dance, a dance that concealed the answer, the very answer that had to be the crux of his paper. He could almost see it, he almost knew it, the words expressing the mystery he longed to fathom were already faintly audible, when suddenly all the images vanished, and beneath his eyelids the usual grey darkness fell.
When he opened his eyes, where the girl’s thighs had been a while earlier, he saw the brown upholstery of her empty seat, and off to his left, in the corridor, the shadow of his companion standing by the window. She must have been gazing at the sun, which was hiding behind the hills and had gone fabulously red from that side of the train.
He reached for his laptop and quickly began to make notes. He described the bizarre visions that had appeared before his closed eyes, starting from the most important general observations, via the details that might have significance, to the least essential, as it seemed to him just then. That was something already. Then he began to list possible connections, note down ideas and pose questions. For a few minutes the keyboard rattled away like mad, then it slowed down, and finally fell completely silent.
He raised his head and saw that along with the sun, which had now set for good, the girl had vanished from the corridor. Perhaps she had bumped into a friend, or gone off to the buffet car. He switched on the light in the compartment and looked around him. Although the conditions seemed ideal for work, he felt he couldn’t go on writing – as if there were something missing. He read through the notes he had already made, but nothing else came to mind. He put away the computer and closed his eyes, but all he saw was the same darkness that had appeared a little earlier.
It wasn’t the burn-out that he had sometimes experienced. Instead he felt more like a racehorse that’s ready to go and full of energy, but gets turned back at the start and shut in its loose-box. And it looked as if this state would never end. The train rattled monotonously, his neighbour still didn’t reappear, and he felt there was nothing left for him to do but take advantage of the free space in the compartment, switch off the light again, stretch out more comfortably and go to sleep.
The only way he could think of what happened in the dark in that train compartment was as a bizarre, extremely suggestive dream. It began with him feeling an unusually pleasant dampness, and a smell that he could only compare with the scent of loosened spring soil. He turned onto his side a little and moved his right hand upwards. When it reached the level of his face he came upon something hot and naked. This something not only did not recoil from the touch of his hand, but slowly and gently pressed up against it, tensing as it did so. As his hand wandered towards this tension, the earthy smell came close to his nose, and shortly after his face was immersed in something wet and receptive. His hands went on discovering more and more taut objects, and the dampness and warmth gradually spread across his torso, moving lower, towards his belly and loins. Soon, rather than feeling as if something were getting through to him, it was as if he were the one descending into swampy ground that was waiting for him, which was so pleasant that he felt like dissolving in it, crumbling into the tiniest particles; even so – as he knew for sure – they would soon join together again, and in a decidedly better configuration. Finally he saw that it was all the dance from his earlier vision, except that he was no longer an outside observer but one of those frutti di mare, revolving in sacred oblivion around those thighs at the very centre.
Though he couldn’t remember how it ended, shortly after waking he found he was in an excellent mood. When he opened his eyes, the January sunlight was pouring into the compartment, and the sight it illuminated of the tempting stranger, still lying sleepily with her legs crossed on the seat opposite, filled him with enthusiasm and joy – not just because it was absolutely beautiful, but also because with it came a whole torrent of creative ideas. He switched on his laptop and, smiling to himself, began to make notes. Minutes earlier the train had pulled in at Gdańsk, and he had just over a quarter of an hour left before it reached Gdynia, but in only ten minutes he managed to write down far more than seemed possible.
Once the train was passing Sopot, feeling sure he had found and written down the answer he should give in his paper, he closed the computer and put it in his backpack, and a few seconds later he heard the girl’s voice saying: “Could you please give me a hand again?” He was pleased that this time he was able to react without delay; he helped her with the suitcase and sat down again, once more enjoying the proximity of the young woman as she sorted something out in her luggage.
After that it all went as normally as could be. The girl finished packing, smiled at him and politely said “Goodbye”, to which he replied even more politely, then they took their luggage and went off down the corridor in opposite directions as the train pulled up to the platform.
The paper that Doctor Eryk Klomb presented a day later at a conference held at Gdynia Museum on the religions of the Baltic coastal tribes was warmly applauded by his professional colleagues, and the leading local daily used it and an interview with its author as the basis for its weekend centre spread. Eryk was invited to co-edit a series of books on cultural studies to be published by Gdańsk University Press, and during a break at the conference the dean of the humanities faculty asked him if he shared the general theory that the Gdynia girls were prettier than the ones in Krakow, and mentioned ways of expediting promotion for gifted employees.
In any case, he did not need all those assurances that his paper, the main premises of which had come to him on the train between Krakow and Gdynia, was his best work ever. As he rocked his way back to the royal city, remembering the journey with the stranger, he shuddered with excitement at the thought that another miracle must have happened that night too, and a very important one at that – solitude had ceased to be a precondition for his creative work.
He never forgot how, a day after returning to Krakow, he headed for the Europejska café on the Marketplace to write. It was around noon, and the café wasn’t packed. He sat down at the next table to a solitary teenage girl, and started up his computer. But before the text-editing screen had appeared, the girl was joined by a well-built man a good ten years her senior; glancing mistrustfully in Eryk’s direction, he suggested to his partner that they should sit a few tables further off. Nevertheless, he decided not to change places, but just bide his time and sit it out. About an hour later, two twittering forty-something-year-old ladies turned up at the café, already into their ritual chatter. He found out they were teachers, and that both of them fancied their colleague the English teacher, but were obliged to have affairs with other people entirely – one with the headmaster, for reasons of prestige, and the other with the janitor, who while not particularly fragrant, went like a jackhammer in the storeroom behind the gym. Of course there was no question of doing any writing. He waited for them to go. When a man who looked like a cross between a Gypsy and an Italian in a well-ironed suit appeared at a nearby table, he thought that finally here was a calm, inspiring presence, but his neighbour began winking a rheumy eye at him and flickering his tongue in his direction, so there was nothing for it but to switch off the computer and make a rapid exit.
This first try was not the only one, but unfortunately it was symptomatic. He frequented various shrines, feeling all geared up to write a new paper, but each successive attempt came to nothing. He refused to give in, but doggedly went on trying to discover possible causes for his lack of productivity. He kept changing locations, starting to wander from the Marketplace down Floriańska Street and its offshoots towards the roundabout, and then backtracking across Grodzka Street to reach café country in Kazimierz. He didn’t avoid standard restaurants, even the ones offering international fare, as well as tea rooms and little patisseries, and within each separate area he always tried out several different places. As well as the laptop, he always had some clean sheets of paper with him, an A5 notebook, several coloured ballpoints and a fountain pen. He changed his clothes of course, and after a few weeks he even cut his hair a bit to keep it at the same length as at the time of the conference. But a few months later he was in utter despair.
It wasn’t just that he was finding it hard to write in company, but also that since coming back from Gdynia he was no longer able to concentrate on his work in solitude either. That day, when once again he ended up at his flat on Pawia Street and sat down in his study-cum-library, instead of following the words that ought to be appearing letter by letter on his laptop screen, his gaze kept wandering out of the window, where he could see the street leading to the station. A few hours later he got up, switched off the computer, having realised that journey had changed something, as each successive failure to get down to creative work was making him more and more certain.
As he gradually deduced, that one night had not broken the spell of his problem with working among people, but had even taken away his former ability to work only on his own; slowly and scarily, this conclusion instilled itself like a death sentence. He pushed it aside and tried not to think about it for as long as he could, but the moment came when he had to face up to it.
It was towards the end of June, when Professor Marian Piłat, who had supervised his thesis, and was now his immediate superior, called him in and asked him to explain why he had failed to submit an article on time for the journal on religion that the college published, as well as the next two chapters of his postdoctoral thesis for review.
“I haven’t forgotten your success in Gdynia, Eryk, though half a year on I might well have. You have to do more writing,” he said. “The academic year is coming to an end, and we don’t have much need for post-doctoral students who aren’t publishing or making progress with their thesis.”
“I know, Professor. I’m having some problems of a, er…” – at this point Eryk hesitated – “personal nature,” he added, and at that very moment he became quietly but acutely aware that ever since that journey, as far as creativity went he had been a deadbeat.
This observation did at least enable him to start analysing his situation at another level, the level of someone with nothing to lose any more. It was a good path to follow, because in searching at the root of the matter, he asked the basic questions again and sought nothing but new answers. And it felt so important now that the issue of the extraordinary effusion of thoughts he had experienced then, apart from the pessimistic reply that it was the swansong of his creativity, could have one other solution, which in such dramatic circumstances was worth checking: maybe what he needed for creative work was not just anyone, but that particular girl.
This last eventuality was instantly verified by a rather unpleasant incident. A few days after his conversation with the professor he was sitting quietly in the Alchemia café in Kazimierz, and had only changed seats a few times when two policemen came in and took him to the police station. It turned out that a British student, who happened to be in the café at the time, had taken him for a pervert who wouldn’t let her drink her coffee in peace, and apparently the barmaid had confirmed similar suspicions. After three ghastly hours of explaining himself to the investigating officer, he was released. Once he got home, it took him a quarter of an hour to pack the essential items for a few days away, and at a swift pace he set off for the railway station.
The last train to Gdynia was already at the platform. At first he wanted to try combing the compartments by population density and quality, but he soon realised it made no sense at all now. He holed up by a door in the corner of an area that was already almost packed, closed his eyes and tried to remember every detail of the strange girl whom he had met on the journey six months ago. And maybe it was the clatter of the wheels, or the similarity of his surroundings, or maybe both that made the answer which only a short while ago he hadn’t even noticed, but which had to be his last chance, seem more and more certain and obvious.
Feverishly he analysed and interpreted the images of that night, while also wondering how he could have failed to notice something so obvious for such an age. It had taken him so long to understand that this girl had something extra possessed by none of the café clients in whose company he had tried to be creative. Once he had managed to summon up the way she looked, he realised that though the shapes that came to mind might be questioned by the judges of a modern beauty contest, they made subtle reference to the proportions of fertility goddesses in primitive cultures. Hips slightly wider than average, powerful thighs and ample breasts were inseparable elements in images of the primordial mother, the goddess of harvest, the personification of the earth. The vegetative energy emanating from her, the germinating power and moist warmth exuded a strong sexual aura all around her. To this he added the memory of his ecstatic visions, those more or less conscious revelations and intimacies, and he realised that even the paper on feminine water symbols that had come into being during that journey was in a way about her. As he recalled the weird sensations which had given him so much pleasure in the middle of the night, and which had seemed so genuine, that if not for their utter absurdity he would have counted them as real, he no longer had any doubt that he was dealing with someone special, a creature from the sphere of the sacred, a goddess or a muse.
He didn’t sleep at all for thinking about it. As he got off the train in Gdynia, he asked those who have the power to fulfil our silent requests, if it was true, if he had correctly identified the source of his inspiration and his only chance, to be able to find her now, meet her and keep her by his side for ever.
As an academic, he found accommodation at the student hostel on the seaside boulevard. The windows of his little room looked out onto a beach that started filling up at dawn, and the bay beyond towards the spit, but he didn’t make the best of this view because he spent all day roaming about the city. He walked the length and breadth of the city centre, the Forest Allotments, Saint Maksymilian’s Hill and Witomino, taking the bus and the funny trolleycars on longer routes, between Dąbrowa and Oksywie, or Chylonia and Orłowo. Every few stops he got out and walked, just walked and gazed about.
On the evening of the sixth day of his quest he realised that although he had seen masses of women and girls, in more or less advanced states of undress, depending on the distance from the sea, he had no chance of seeing them all. He accepted the fact that if in all this time he hadn’t bumped into the woman he was seeking, he had no chance of finding her, and he asked himself what exactly he’d been hoping for.
Next day he packed and headed downstairs to pay for his room. Indescribable joy came over him when there, through the glass in the reception area window, he saw the object of his quest. The girl may well have been there the entire time, but she must have been working during the day, while he was wandering about the town. It only took a few seconds of revelling in her presence, and at once he felt a new flood of wise, groundbreaking words, enough to write down on anything.
“It’s you!” he said, radiating joy into the little window like a child.
“It’s you!” replied the girl, sounding rather resentful, but undoubtedly recognising him. “Would you come in here a moment?” she asked.
“Of course,” he said, immediately stepping back into the hall to find the door into the reception area.
As he went in, she was waiting for him just across the threshold. The hard slap on the cheek was just a momentary shock. When he looked up from knee height, to which he had fallen, there in front of him he saw a belly that implied roughly the sixth month of pregnancy.
Only then did he feel truly in seventh heaven.

short story

St John of the Miraculous Lake
Rebecca O’Connor

For fear of the sound of his own voice. This nettle-eyed child won’t open his mouth for fear of the sound. He goes up to the old hospital and throws seven boys names, six girls names, five fruit at the wall, jumping and spinning each time before catching the ball. But the words stay in his head.
Sometimes he plays nurses with the girl next door. He lies still as a doll while she jabs him with lolly pop sticks until his willy stiffens in his trousers. In his head he is saying ‘Yes nurse,’ ‘It hurts just there,’ ‘Thank you nurse.’
He is like St Bernadette of Lourdes. Except that he is a boy. And he hasn’t seen the Virgin Mary. And he doesn’t live in France or even speak French. But he is a saint, he knows that much for sure. Heard people say he was touched, people who thought he might be deaf as well as mute. It’s only one ear is deaf. The other one can hear just fine. He feels most holy when he stands at the window at dusk looking down at the lake. It is a lake of blessed water, healing water. Oh, to go down there, but there is no going down anymore. Not even when the weather changes. Not even when he is grown.
That lake never got warm. But they used to go there, he and his older brother – as often as they could, and as soon as they could – not long after you could see your own breath, and before the air was abuzz with midges. Swimming near to the jetty was the thing, where you could feel the tadpoles nibble at your skin. It was a peculiar sensation, skin burning with the cold and them nibbling. They scooped the jelly into buckets and brought it home, to watch the mystery of it turn. But they always just missed that moment when the spawn became full-grown frogs – too careless, too preoccupied, or too subtle a change to see, whatever it was.
It was down there he had one of his visions, only he saw nothing. There was a moment when suddenly it got warmer, suddenly the birds were making more noise, more flutter, when the air became visible like a swarm, and he looked up at the chinks of sky between the trees as if they were blue bees. His head back until his neck cricked, his feet slowly sinking into the pine needles. The insects humming, whirring. And the sound of Ben thwacking branches to either side of him with a stick. It was the sound of a small wood fire, but it wasn’t. It was Ben saying ‘Come on, we’ve got to find him,’ and pushing through the undergrowth. Then the noise stopped. He stooped to flit a stone across the lake. It sputtered, made a single ripple, and sank.
He even went back and looked for Jake in the shed. As if they’d forgotten him, as if their wee brother hadn’t been with them only a few minutes before. It was that kind of vision: though he saw nothing, he could feel time running him round like a headless chicken. He looked in the old tumble drier – Jake’s favourite hiding place – but he wasn’t there. Of course he wasn’t. He was with Ben. But he wasn’t with Ben. He went down again to the jetty and found Ben on his hunkers looking for perfect skimming stones. ‘He’s about here somewhere,’ he said, ‘the little shite. He’s hiding.’ That was the sort of thing could make you laugh, Ben talking like he was grown up. But he started to cry instead.
They hid in the shed, looking at the pictures in their children’s bible and in Ben’s comics, eating cola bottles and space ships. They said nothing. Wasps flittered in and out of their paper nest on the ceiling. Then Ben went behind the upturned table with the broken leg and John into the tumble drier. Soon his legs went dead. He liked it, and he liked the smell of dust and turpentine and unwashed vegetables. But he was scared too. Then he heard his father’s voice calling, and that was when he had his second vision. It was a smaller one than the first: he only got a kind of ringing in his ears, and the inside of the tumble drier went white with light for a second and then was dark again, darker than before. His father was calling ‘Be-en! Jo-ohn! Ja-ake!’, his voice all odd and tinny. Then the lid was off, and he was lifted free of the drier, his legs frozen and a horrible swelling pain in them that made him want to knock his knees from their sockets. ‘Where’s Jake?’ his father was saying. ‘Where’s Jake, where’s Jake, where’s Jake,’ and shaking him. Then shaking Ben.

He never spoke after that. His mother went like a baby, like Jake used to be, with swollen eyelids and blubbery lips. Her tongue grew enormous, and her skin was scorch-marked with tears. His father was jaundiced looking. They both terrified him, as did the neighbours with their freshly laundered hankies and soapy hands, lifting him off the ground, lifting him on to their unfamiliar warm laps with tears swilling in their eyes. Ben was too old for sitting on laps. He didn’t want them touching him. He sat away from them – near their mother, always near her – and watched. It was after he had told them we only wanted to show Jake the frogs, only wanted to show him where they lived, take them grown up frogs back home. And after they’d gone to look, and then found Jake in the holy water, and sent him to the hospital, the one that’s closed now, and left him there for good.
Then the bottom bunk was empty. John carried on talking to Jake anyway, just like he always did, except in his head. Words flooded through him, drowned him. Then his mother removed the bunk and replaced it with a single bed.

He isn’t used to sleeping so close to the ground so he’s started bedwetting and falling out. Now he has a dark green plastic sheet he sleeps on so when he pees himself it doesn’t go down into the mattress. He hates the smell of his own pee. He hates the cold mackintosh feel of the undersheet. It reminds him of this one time when they went up into the mountains and it rained and rained, and all they had to eat were Rich Tea biscuits. Sometimes he hears Ben crying and goes in his room and says ‘Ben’ and Ben says ‘What?’ and he say ‘Nothing’.
His mother has taken to wearing a pendant around her neck with a little picture of Jake, which he kisses every night before bedtime. His mother tells him Jake is an angel up in heaven. He is the boy in the bottom bunk, underneath him, it’s hard to think of him up above. But he does. And he says prayers every night and asks him to look over him, even though he’s underneath. When he prays it is so quiet that he can hear moths fluttering against the light in the hallway. And when he’s in bed the dim light through the window over the door stings his eyes, but he won’t let his mother turn it off. Then he hears her, and he closes his eyes tight, feeling her shadow move across them and the warmth of her body stooping over him, her breath smelling of cloves.
‘Are you sleeping, John darling? Are you? Don’t you worry, everything is going to be alright. Mammy loves you very much. You say a wee prayer for me, hah, and for Ben, and for Jake. You’re my little angel. What would I do without you? I’m awful tired …’
The trick for getting rid of her is to moan and turn over on to his deaf ear so’s he can’t hear her anymore. He hates this mother who comes to him in the night.
He needs one more vision to secure his place in heaven at the right hand side of God. It’s the only place will do, otherwise he’d feel like he was missing out. But the visions have all dried up lately.
His front tooth is loose. That could be a sign. And the girl next door has stopped speaking to him. Maybe she senses something. They were supposed to get married, now she won’t even look at him. Maybe the next miracle is to stop his mother crying all the time. Then the whole neighbourhood would raise him up on eagle’s wings, make him to shi-ine like the sun, he sings in his head. Oh praise be to St John of the Miraculous lake. He can hear them clear as day.
He knows what to do. And so he gets himself a bucket from the shed, a long time after Jake has been away, and he makes his way down to the lake, the forbidden place. He doesn’t meet anyone he knows on the road. Safe over, and over the stile into the field that leads down to the swimming place. It is the place of the first miracle, the sacred place. He steps tentatively into the water, crouches down and drags the bucket through the water. One bucket of holy water is all it will take. One bucket will fill the whole basin where they used to keep the frogs. And then it will be the holy fount, and people will come to him to be healed. And he will heal his mother, and his father, and Ben. He will wash away their weirdness, Amen, Gloria in Eggshells! That’s what they’ll say at his first communion, when he’s brought up before the priest on the altar, bathed in light.
The water is soaking through his trainers.
Next thing there’s somebody in the field, a flurry of colour running towards him. He turns his back on her. Maybe she won’t see him, or know it’s him. He needs more time. He needs to be able to get the water back up to the basin. But when he turns to look she’s still running, and it’s clear now that it’s his mother. He tightens his grip on the handle of his bucket. There’s mud on his hands. She’s nearer, scooping him up with words; then she’s here taking him right up in her arms. He clings, water splashing over the sides of the bucket onto his hands.
‘Put it down. Put it down,’ she screams, grappling with his fingers.
It falls away, splashes into the water. Then he knows the only thing he can do is save her alone, so he slowly raises his eyes up to hers, lifts his muddy hand, and dabs her forehead with the holy water. He holds her, very quiet, very still, as her eyes dry into the lake.

Membudayakan Menulis Bagi Mahasiswa


Membudayakan Menulis Bagi Mahasiswa
Oleh. Anas Maulana

Bagi banyak orang dan bahkan mahasiswa yang terkenal sebagai kaum akademisi, menganggap menulis adalah sebuah hal yang sulit. Kenapa? Mereka biasanya terjebak oleh ketakutan-ketakutan dengan aturan-aturan serta pengharusan sistematisasi ide agar dapat disebut sebagai tulisan yang baik. Akibatnya, belum menulis pun sudah ada bayang-bayang kegagalan tentang hasil tulisannya nanti. Sungguh ironis.
Budaya menulis dikalangan mahasiswa sangat rendah. Mahasiswa hanya akan menulis juka ada tugas-tugas kuliah dari dosen. Sangat jarang dari mereka yang dengan sengaja meluangkan waktunya untuk menulis. Yah minimal menulis untuk diri sendiri dalam buku diari saja sudah bagus. Karena motivasi menulis mereka rendah maka 'copy paste' dari internet menjadi hal yang 'halal' dan sering dilakukan untuk menutupi tugas-tugas kuliah.
Budaya plagiaris di kampus menjadi subur dikarenakan minat menulis mahasiswa rendah. Cara fikir instan meracuni kebanyakan otak mahasiswa. Mereka hanya punya satu orientasi agar tugas kuliah yang membebani dapat terselesaikan secepatnya, tidak peduli dengan caranya apakah hal tersebut plagiat atau tidak. Di era cyber sekarang ini sangat mudah mencari dan menemukan apa saja di internet. Dan sangat mudah bagi mahasiswa untuk berbuat curang dalam penulisan dan pengerjaan tugas kuliah semisal membuat makalah atau karya tulis ilmiah. Mereka cuma klik dan paste dalam dokumen yang baru lalu mengklaim untuk namanya.
Rendahnya budaya menulis mencerminkan rendahnya pengetahuan. Menulis adalah sebuah refleksi ide. Seorang penulis harus tahu setiap jengkal kata yang tercoretkan dalam tulisannya. Kita dapat mengukur bobot wacana seseorang dari produk tulisannya. Namun sekarang banyak muncul mahasiswa-mahasiswa 'kopong' (kosong), walaupun mereka banyak menghasilkan produk-produk tulisan, tetapi mereka tidak mampu untuk menjelaskan konsep-konsep ide di dalamnya karena dalam prosesnya mereka hanya 'mengaku' menjadi penulis tapi bukan 'penulis'.
Rendahnya minat mahasiswa dibidang tulis-menulis ini juga dirasakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) khususnya di kampus penulis STAIN Salatiga mengalami penurunan minat keanggotaan baru . Dari tahun ketahun terjadi penyusutan minat mahasiswa untuk bergabung dalam lembaga ini. Memang banyak faktor yang mendasarinya, salah satunya adalah mahasiswa sekarang lebih bersikap apatis dan praktis dalam proses perkuliahan mereka. Mereka hanya sibuk kulih saja.
Budaya menulis akan ada jika sudah ada setingan budaya membaca. Membaca adalah sebuah proses dialog ide. Ruang-ruang informasi serta transformasi ide terjadi saat proses membaca. Dengan membaca akan terjadi dialog ide yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Pembacaan dapat dilakukan oleh antar generasi, tentunya melalui media tulisan. Bagaimana kita dapat membaca ide masa lalu jika tidak ada dokumennya? Melihat hal tersebut maka budaya menulis menjadi sangat penting.
Budaya menulis adalah cermin budaya maju. Karena memang dalam prosesnya, untuk menulis dibutuhkan komitment untuk pembentukan budaya sebelumnya yang dalam hal ini meliputi budaya mendengarkan, berbicara dan membaca. Untuk dapat menulis kita harus mampu menjadi pendengar yang baik. Karena dengan mendengarkan kita akan mendapatkan informasi tentang hal-hal baru, ide dan gagasan yang dapat kita gunakan sebagai bahan tulisan kita.
Seorang penulis yang baik adalah seorang penutur yang baik. Artinya dalam proses pembuatan tulisan haruslah mampu berkomunikasi dengan pembaca, jangan sampai pembaca kesulitan untuk membaca ide yang kita tawarkan dalam tulisan. Sebuah tulisan ibarat sebuah teks pidato yang akan disampaikan kepada pendengar. Intonasi nada dan kata sangat berpengaruh dalam penyampainnya, maka dari itu pilihan kata dalam sebuah tulisan adalah penting. Berbicarah lewat tulisan seolah yang kita ajak bicara adalah teman diskusi.
Menjadi penting untuk sosialisasi kepada mahasiswa untuk meningkatkan kecintaan pada budaya menulis. Menulis adalah dokomentasi dari sebuah gagasan. Banyak ide-ide dan gagasan terekam dalam buku-buku dan dokumen. Sangat disayangkan jika ide besar tersebut hilang begitu saja dan terputus transformasi ide antar generasi hanya karena rendahnya minat membaca. Mahasiswa adalah salah satu elemen yang paling bertanggung jawab, karena mereka adalah kaum inteletual yang seharusnya akrab dengan buku-buku. Mahasiswa harus menjadi pioner dari terciptanya budaya membaca. Setelah komitment membaca ini terbentuk maka budaya menulis akan tumbuh dengan sendirinya.
Tulisan menciptakan ruang dialog antar generasi. Tulisan menjadi penting sebagai wujud hasil observasi dan penelitian atas suatu hal, ide dan gagasan. Penelitian-penelitian yang terdokumentasikan dalam tulisan akan menjadi sumber dari penelitian selanjutnya. Seseorang dapat berdialog dengan para tokoh besar, seperti Karl Marx, Adam Smith, Ali Syariati, Gus Dur dan banyak yang lainnya dari membaca tulisan mereka. Budaya menulis dapat mendorong mahasiswa untuk melakukan riset pengetahuan secara lebih mendalam.
Saatnya mahasiswa berkata jika menulis itu mudah dan menyenangkan. Banyak hal-hal positif yang dapat diraih dari menulis. Aktifitas menulis akan memperkuat daya ingat kita tentang informasi-informasi yang sedang kita tulis. Dengan menulis kita telah melakukan potret jejak dari pengetahuan yang kita miliki untuk generasi seterusnya. Dengan menulis maka kita akan ditulis.

Sumpah Pemuda: Milik Siapa?

Sumpah Pemuda: Milik Siapa?
Oleh Anas Maulana

Tanggal 28 Oktober 1928 yang lalu, pemuda Indonesia dari berbagai suku, ras, agama dan golongan bertemu pada satu forum untuk mendeklarasikan sumpah sebagai satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yaitu Indonesia. Padahal saat itu kondisi bangsa Indonesia sedang terjajah, terlebih keadaan transportasi, topologi alam dan berbagai kesulitan teknis lainnya menghadang pemuda, namun semuanya tidak mengurangi komitment besar pemuda untuk merealisasikan mimpi besarnya yakni Indonesia Merdeka. Namun sekarang, jangankan berjuang untuk kesejahteraan bangsa, menemukan teman untuk mendiskusikan tentang masalah bangsa saja sangat sulit.
Ada sebuah pertanyaan mendasar, sebenarnya milik siapakah sumpah pemuda? Apakah sumpah itu sudah mewakili dari ‘sumpah’ pemuda secara keseluruhan? Ataukah hal tersebut hanya terbatas pada peserta Konggres II Pemuda tersebut? Artinya ada pemotongan generasi, pemuda sekarang tidak bertanggung jawab atas cita-cita besar yang telah digagas oleh pemuda terdahulu lewat komitmen Nasionalismenya !.
Tulisan ini berangkat dari sebuah kekhawatiran dengan kondisi pemuda saat ini. Pemuda sekarang sudah lupa dengan jerih payah pemuda dahulu yang telah berjuang merebut kemerdekaan dengan darah, fikiran dan air mata. Mereka disibukkan dengan kesenangan pribadi serta kebutuhan-kebutuhan hidup yang senantiasa harus dipenuhi. Yah, bagaimana mau merubah dan memikirkan kondisi bangsa ini menjadi lebih baik, untuk memikirkan diri sendiri saja masih kesulitan. Hal tersebut memang tidak bisa disalahkan, tetapi setidaknya pemuda sekarang mau dan berusaha untuk mengetahui tentang semangat sumpah pemuda. Namun kenyataannya, kebanyakan dari mereka tidak tahu dan tidak mau tahu tentang hal itu.
Bagi aktifis gerakan kepemudaan ataupun kemahasiswaan, momentum sumpah pemuda adalah saat dimana mereka melakukan refleksi atas ‘kejayaan Nasionalisme’ para pemuda. Mereka tidak henti-hentinya melakukan proses penyadaran akan pentingnya Nasionalisme. Berteriak di jalanan dengan harapan masyarakat akan tertegun dan sadar akan pentingnya rasa memiliki dan sepenanggungan sebagai satu nusa, bangsa, dan satu bahasa Indonesia. Ironisnya, apa yang telah dilakukan adalah lelucon yang ‘ditertawakan’ oleh kebanyakan orang terutama pemuda. Yah, tentunya akan lebih nyaman nonton TV di rumah, bermain HP atau jalan-jalan dengan sepeda motor bersama teman-teman, touring ke pantai atau shoping dari pada harus bersusah payah diskusi atau aksi di jalanan.
Tidak adanya rasa memiliki akan sumpah pemuda menjadikan pemuda acuh terhadap kondisi bangsa Indonesia. Logikanya, jika memang ada rasa memiliki, para ‘aktifis’ tidak perlu berteriak di jalan melakonkan sebuah peran sebagai ‘seolah’ pemilik dan penerus generasi pemuda terdahulu tersebut. Atau jangan-jangan sebenarnya saat terjadi sumpah pemuda, meskipun melalui perwakilan dari kelompok pemuda dari berbagai daerah di Indonesia, namun hal tersebut belum mampu menjadi kekuatan besar untuk menggerakkan pemuda secara nasional waktu itu. Maka tidak heran jika sekarangpun sebenarnya sumpah pemuda belum cukup kuat untuk ‘dimiliki’ oleh seluruh pemuda Indonesia. Akibatnya para pemuda tidak merasa ‘memiliki’ komitmen kebangsaan tersebut, jadi mengisi hidup dengan kesenangan adalah pilihan pertama dari pada ‘mengisi kemerdekaan’ untuk kesejahteraan nusa dan bangsa, Indonesia.
Akses media informasi yang tidak terbatas memiliki efek negatif terhadap proses kharakterisasi jiwa pemuda. Pemuda digiring dan dijebak pada standarisasi serta gaya hidup hedonis yang semuanya ditentukan dari asumsi pasar. Kalau dahulu penjajah datang dengan senjata, tetapi sekarang penjajah telah ada dan merasuk jauh kedalam benak setiap pemuda. Perusakan kharakter terhadap pemuda adalah bentuk dari penjajahan terorganisir. Tujuannya adalah untuk menjauhkan pemuda dari rasa memiliki bangsa Indonesia. Kalau tidak ada rasa memiliki, bagaimana mungkin pemuda akan ‘merawat’ nusa bangsanya? Indonesia.
Jangankan pemuda desa atau pemuda kebanyakannya, mahasiswa yang disebut sebagai kaum penggerak dan pembaharupun, semakin hari semakin sulit untuk diajak diskusi dan merefleksi sumpah pemuda. Memang ada yang masih semangat untuk meneriakkan perubahan dan merefleksi atas keadaan bangsa. Namun kebanyakan dari mahasiswa lebih memilih menghindar dari dunia gerakan. Mereka lebih suka kuliah saja, lalu pulang ke kost dan pergi ke warung dan terkadang main-main bersama teman ke suatu tempat untuk refresing. Yah, inilah potret riil dari keadaan pemuda dan mahasiswa sekarang.
Memiliki sumpah pemuda berarti harus memiliki semangat yang mendasarinya. Jangan sampai sumpah pemuda hanya dijadikan sebagai momentum yang sama sekali tidak ada semangat. Sumpah pemuda jangan dijadikan romantisme kejayaan dari rasa Nasionalisme pemuda saat itu. Apalagi sumpah pemuda sudah dijadikan dari titik ejakulasi perjuangan pemuda. Hal tersebut justru akan mengkerdilkan makna sumpah pemuda.
Sumpah pemuda adalah semangat pemuda. Rasa ini harus dimiliki oleh setiap pemuda Indonesia namun tentu ada syaratnya. Sumpah pemuda adalah milik pemuda yang memiliki komitmen kebangsaan. Semangat ‘pemuda dahulu’ dengan kesungguhan mimpi untuk memerdekakan dan menyejahterakan Indonesia senantiasa terasa dan hadir dalam setiap relung hati terdalam. Penulis rindu akan bersatunya kembali pemuda untuk berkomitmen mengisi proses kemerdekaan. Mungkin dibutuhkan Sumpah Pemuda Ke-2 untuk mengembalikan rasa kepemilikan pemuda akan nusa, bangsa dan bahasa Indonesia.

Demokrasi Vs Demonstrasi Kampus


Demokrasi Vs Demonstrasi Kampus
Oleh Anas Maulana

Tulisan ini bermula ketika penulis sharing tentang keadaan kampus masing-masing di acara Seminar Politik, Pelatihan Legal Drafting dan Temu SEMA/DPM PTAI Se-Jawa Tengah di kampus STAIN Salatiga tanggal 22-24 Maret 2010 kemarin. Saat itu pembicaranya adalah sahabat Abu Laka, ketua SEMA UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta yang juga Koordinator Pusat FL2MI(Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Seluruh Indonesia) dan ditemani oleh sekretarisnya sahabat Lalu, bercerita tentang keadaan kampus mereka yang sering ada demonstrasi kepada Lembaga, bahkan baru minggu kemarin mereka dan sahabat-sahabat demonstran yang lain berhasil menduduki kantor Rektorat. Bagi penulis hal ini adalah hal yang luar biasa, artinya di luar kebiasaan demokrasi di kampus kami.
Kampus adalah miniature Negara. Maka demokrasi menjadi kebutuhan yang mendasar bagi terciptanya iklim kampus yang transparan, aspiratif dan akomodatif. Nah disini Senat Mahasiswa (SEMA) memainkan peranan yang penting. SEMA tidak hanya menjadi lembaga control bagi eksekutif kampus, tetapi juga memiliki peranan yang penting dalam mengawal setiap kebijakan Lembaga yang langsung mengena pada kehidupan mahasiswa.
Yang menjadi tuntutan dari sahabat SEMA UIN Jogjakarta adalah bahwa mahasiswa dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan dan kebijakan Lembaga yang berkaitan dengan kemahasiswaan secara langsung. Dalam hal ini satu suara dari SEMA menjadi penting. Mengapa?. Karena SEMA adalah representasi dari suara mahasiswa secara keseluruhan, karena memang mereka dipilih secara langsung oleh setiap mahasiswa melalui Pemilu Mahasiswa tetapi kenyataannya mahasiswa tidak pernah dilibatkan dalam penetapan keputusan. Termasuk di kampus penulis, hal tersebut hanya menjadi rekomendasi pada Konggres Mahasiswa (ForumTertinggi di Kampus Penulis).
Dalam setiap pengambilan keputusan untuk mahasiswa tidak ada wakil dari mahasiswa yang menjadi ukuran dari kebutuhan-kebutuhan mahasiswa. Mereka selalu berargumen yang berhak memutuskan suatu kebijakan adalah Senat Universitas/Lembaga dengan mengesampingkan suara-suara mahasiswa. Lalu apa gunanya SEMA sebagai wakil suara mahasiswa di kampus kalau tidak bisa masuk di dalam keputusan-keputusan kemahasiswaan, terlebih untuk pemilihan Rektor seperti yang terjadi di UIN Jogyakarta beberapa hari yang lalu.
Analisa yang muncul antara kami bahwa sekarang ini terjadi pengkondisian kepada mahasiswa agar mereka tetap asyik dengan kehidupan akademik saja dengan mengesampingkan perannya sebagai agent of change dalam masyarakat. Bukankah untuk menjadi pioner dibutuhkan bekal yang cukup?. Nah di kampuslah tempat yang ideal untuk menenemukan soft skill dan hard skill tersebut yaitu dengan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dengan berorganisasi mahasiswa akan lebih siap untuk proses-proses pengabdian di masyarakat. Bukankah Tri Dharma Perguruan Tinggi mengharuskan setiap mahasiswa untuk mengabdi di masyarakat?. Masalahnya kebijakan yang ada tidak memcerminkan pembentukan kharakter mahasiswa yang memilki nalar perubahan dan penggerak tetapi hanya out put yang siap kerja dan diterima pasar. Kenyataannya bukankah banyak dari mereka yang menganggur?.
Mahasiswa dicekoki dengan kebijakan seperti SKS, absensi yang harus 80%, bea siswa dengan standar akademik IPK 3.0 ke atas tanpa tahu alasan sebab muasalnya serta campur tangan yang berlebihan oleh Purek Tiga/Pembantu Ketua Bidang Kemahasiswaan dalam proses-proses keorganisasian kemahasiswaan. Permasalahan-permasalahan administrasi serta kemahasiswaan yang lainnya hanya menjadi bunyi-bunyian ditingkatan mahasiswa saja tanpa ada penyaluran yang proporsional. Maka tidak heran mahasiswa menjadi jenuh dan akhirnya disalurkan lewat demonstrasi kepada Lembaga.
Di kampus Penulis, ada tradisi Public Hearing yaitu sebuah sarana yang mempertemukan secara langsung antara para Petinggi Lembaga dengan mahasiswa secara langsung dalam satu forum. Dalam forum tersebut mahasiswa menyampaikan segala keluh kesahnya tentang segala permasalahan perkuliahan. Lembaga diharapkan mau mendengarkan dan merealisasikannya dalam bentuknya yang nyata karena sering kali forum tersebut hanya dijadikan onani dari kegelisahan-kegelisahan mahasiswa saja tanpa ada tindak lanjut yang jelas. Sudah dua tahun ini Penulis duduk di SEMA dan menyelenggarakan Public Hearing beberapa kali, tetapi sia-sia karena tetap saja pada ranah praktisnya suara mahasiswa tidak pernah dilibatkan dalam forum-forum pengambilan kebijakan Lembaga yang bersentuhan dengan mahasiswa.
Mahasiswa dan Lembaga adalah ibarat teman, tetapi teman yang kritis. Dari pemahaman tersebut di atas maka adalah wajar jika suatu saat nanti terjadi kesalahan yang pada salah satu fihak, lalu sang teman mencoba mengingatkan temannya yang lain tersebut. Dalam proses-proses persahabatan tersebut, membutuhkan keterbukaan satu sama lainnya. Jika terjadi sikap saling menutup diri, maka akan buruk akibatnya. Tidak adanya keharmonisan hubungan akan berdampak pada instabilitas sosial yang nantinya berakibat pada ketidakpercayaan antar keduanya lalu berujung pada sikap saling acuh tak acuh satu sama lainnya atau bahkan bisa anarkis.
Seharusnya antara mahasiswa dan Lembaga selalu bisa bersama-sama dalam pembangunan kapasitas mahasiswa. Keduanya sama-sama punya hak untuk bersuara demi kepentingan mahasiswa. Jika suara mahasiswa sudah dianggap seperti sampah, artinya tidak dipandang samasekali, maka dalam konteks ini pengalaman sahabat-sahabat SEMA UIN Jogja adalah contoh yang dapat diterima.

Kamis, 25 November 2010

Something Like Happy

Something Like Happy
The first time I saw Arthur McKechnie, he came into the bank with some cheques. I had just started working there, fresh out of school and a bit nervous, I suppose, and I liked the way he behaved, all polite and nicely spoken, which was more than I could have said for some of the other customers. By the end of that first, almost wordless transaction, I had already decided he was someone I could have liked, but I had also noticed that he was a bit too different, one of those men who thinks too much about stuff that nobody else bothers with, or he doesn’t pay enough attention to other people to understand what they might do, when push comes to shove. As he stood there with the pen in his hand, very obviously reading the badge pinned to my lapel, I found myself wanting to shake him out of the little dream he was in.

Of course, I noticed the name the moment he handed over the paying-in slip. Arthur McKechnie. Everybody knew the McKechnies, and most people knew they were a bad lot, but I knew them mainly because my sister Marie was going out with the worst of them. People would tell Marie that Stan McKechnie wasn’t right for her, which was a mistake, because all that opposition only made her more determined to stick with him. Besides, Stan was good-looking, if you didn’t study him too closely. Not like this Arthur, who seemed put together from a kit, all angles and mess, with an odd cast to the eyes and a mouth that didn’t look altogether finished, like the mouth in a kid’s drawing. I didn’t know then that he was Stan’s little brother. Marie had never mentioned an Arthur, though she talked about the McKechnie sisters all the time. We all did. Some people thought the McKechnie girls were even worse than their brother, if only because they were nice-looking and dressed smart and, if you didn’t know them from old, you didn’t see what they were capable of until it was too late. With Stan, you knew what he was at first sight; it didn’t matter how well he scrubbed up. There was a meanness in his face that you couldn’t miss, unless you were Marie and wanted to miss it.

Arthur didn’t say much. He hand0ed over the money and the paying-in slip; then, when I had processed the transaction, he took the confirmation chit and, carefully, making no attempt to hide what he was doing, wrote down on the back what it said on my lapel badge. He was a slow writer. He held his pen in an odd way, between the first two fingers of his left hand, and he angled his arm round to make the letters, printing them out large: “fiona, trainee.” He didn’t seem to care that I could see what he was doing. When he was done, he looked up and nodded.

Is there anything else I can help you with today?” I asked, not sure whether I was amused or annoyed.

He shook his head. His voice, when he talked, was soft. “Not today, thanks,” he said, with an odd, even suggestive emphasis on “today.” He smiled then; it was a tight, secretive kind of smile, but it wasn’t mean, and I could see that he didn’t think there was anything out of the ordinary in what he had just done. He wasn’t being smart, or impolite. He’d just written my name on the back of his confirmation slip, the way a child would do, for reasons of his own that had nothing to do with anybody else.

I wanted to say something, but I couldn’t find the right words. I just shook my head ever so slightly and looked out to the line for the next customer - and Arthur McKechnie turned to go, that odd little smile on his face, a smile that I could see even then was the sign not only of a secret happiness but also of his inevitable fall. I’m not saying I knew what that fall would be, or claiming it was some kind of premonition; God knows human beings are made for falling, and most human beings in that town were going to fall sooner rather than later. But I did see something out of the ordinary, and I’m sorry now that I didn’t take more notice.


I asked Marie about Arthur when I got home that night. She was preoccupied, getting ready to go out with Stan, so I thought she’d just shrug it off, but she stopped putting on her makeup and sat looking at me through the mirror, her eyeliner suspended in midair.

Arthur?” she said. “Where did you come across him, for God’s sake?”

He came into the bank today,” I said.

Oh, yeah?” Her hand dropped and she grimaced. “Well, don’t be getting interested in him. Stan says he’s a nutter.”

So who is he, then?” I said, picking up some clothes that were scattered around the place. I was always clearing up after Marie, even now, when we didn’t share a room anymore.
He’s Stan’s brother, of course,” she said. “He’s really pissed Stan off, though.”

Oh.” I folded her powder-blue sweater and put it away in the chest of drawers. “Why’s that?”

Something to do with money,” she said. She watched as I gathered up a pile of obvious laundry. “Why? You’re not really interested are you?”

I snorted. “Of course not,” I said. “I just don’t remember you ever mentioning that Stan had a brother.”

Yeah, well.” A worried look crossed her face. “There’s not much to talk about. I hardly noticed him at first. He’s hardly ever there when I go round. When he is, he just sits in a corner, reading.” The thought of it made her shiver. “Stan’s old man says Arthur’s not a real McKechnie. He says Margaret must have got him from some tinker woman she met outside the off-license.” She started working on her makeup again. “It might even be true, for all I know. I mean, he’s nothing like Stan.”

So why is Stan annoyed with him?”

Marie shook her head. “Search me,” she said. “Anyway, I’ve got to hurry. I’m going to be late.”

I studied her as she applied the finishing touches to her face. She wasn’t pretty, but she tried hard. She had been working for three years on the assembly line and, though she would never had admitted it, she was jealous of me, having a good job at the bank. For her, that meant I had a future. Of course, I couldn’t tell her that a future didn’t mean as much to me as she thought it did. It was a good job and everybody said I should be grateful; most girls from my background ended up with no prospects, just eight hours a day on the packing line. People were always saying how lucky I was, as if I had won the lottery or something. “Where are you going, anyway?” I asked.

She stood up and gave a little twirl. “No idea,” she said. “I don’t think Stan’s got any money.”

Well,” I said. “Maybe he should ask Arthur for a loan.” I smiled sweetly.

Ha-ha,” she said. “Very funny.”


Marie had never thought much of me, or my taste, when it came to matters of the heart. It was probably fair to say that I was better-looking, and the teachers at school had always referred to me as the smart one, but it’s no big secret that, with boys, giving out the right signals matters more than looks or brains. Just before then, I’d been going out with a boy called Jack, but when it didn’t work out I felt an odd relief, like someone who had been rescued from the need to maintain some minor but time-consuming pretense. I wasn’t like Marie. She had always liked the idea of love; even at nine, she’d had a boyfriend, a kid called Tony Ross who gave her cards at Christmas and on her birthday. All through her early teens, she had very obviously liked boys, and they had liked her, mostly because boys like to be liked. For Marie, intelligence in a boyfriend was the worst kind of liability, and the few boys I did bring home knew how to write their own names and do basic arithmetic, at the very least. Which was more than anybody could say for Stan, and this was one of the reasons that my father got so angry with Marie a few days later, before he left for his shift at the works.

Stan McKechnie will never amount to anything,” he said, in his customary, quiet but final style. “He can’t keep a job, he doesn’t know how to handle money, he wants something for nothing. Someday he’ll find out that the world doesn’t owe him a living. You steer clear of him, you hear?”

Marie always seemed genuinely surprised that people thought so ill of Stan; after all, she would say, the McKechnies weren’t the worst people on the estate, not by a long way. Stan had been unlucky: his mum had died when he was at a vulnerable age, and his sisters had spoiled him rotten. His dad was a bit of a rogue, everybody knew that, a rogue with a liking for the bottle, but Stan was doing the best he could, and he had big plans. He just needed a break, that was all. Of course, it was sad listening to her talk like that, and I’m not sure she even convinced herself much of the time. The fact was that after she chose Stan she couldn’t have let go, even if she wanted to. She didn’t want to have to admit she had made a mistake; she couldn’t be seen to give in to pressure. Even when the rumor about Bobby Curran started going around, she refused to believe that Stan was involved.

People shouldn’t spread stories,” she said. “Not unless they know all the facts.”

The facts, it turned out, were fairly straightforward. Bobby Curran had been drinking in the White Swan when Vincent Cronin and his brothers had come by. There had been bad blood between Vincent and Bobby since the previous winter, when they’d got into a drunken argument about a motorcycle at a Christmas party. Everybody knew the affair wasn’t over, but nothing happened until that night in the Swan, six months later, when they found Bobby alone and half-cut in a place where he hardly ever drank. The Cronins were too scared of Bobby to have a square go with him; even that night, when it was three against one, they didn’t do anything right away, because none of them were carrying. They couldn’t have fought it out with fists and boots, like in the old days—they had to be armed. Since Vincent lived right across the road, all that was needed was someone to keep an eye on Bobby so he didn’t leave, and the Cronins would run back to Vincent’s flat for some blades. Stan was the one who kept Bobby talking while the boys got themselves ready. Then, when Bobby went out back to the toilets, he gave the Cronins the signal and they went in.

It was over in seconds: Bobby probably didn’t even know what hit him. The Cronins ran out, their clothes covered in blood, but nobody tried to stop them. Jim the Landlord came around the bar and went out the back to see what had happened, and he did first aid on Bobby while somebody called the police and most of his custom melted away, not wanting to be there when the law arrived. The only one who stayed put was Stan McKechnie. He watched the police come in, and he watched the body being taken out, and he never batted an eyelid. Nobody knows who spread it about that he’d been involved, and nobody could say for sure that the story was true, but everybody believed it - which meant that it didn’t matter whether it was true or not.



It was a summer of hard, yellowish heat. The air was never quite clear anyway, because of the works, but this year it was thick and dry, like a fine material wrapped around my face and arms. The bank was supposed to be air-conditioned, but the system didn’t really work; by the end of the day, I was desperate to get out to somewhere cool and wash away the thick gauze of heat on my skin. Sometimes I just went home and showered, then sat by a half-open window waiting for the night, Marie out on the town with Stan, my parents on back shift at the works or sitting downstairs watching game shows. But now and again I would go out to the old swimming hole, the place everybody called the Twenty Two, and spend half an hour or so in the water, not really swimming so much as hanging there, suspended in the rumor of coolness that rose from the depths below.

Usually, I was alone, even though everybody knew about the place; in school, we had spent weekend afternoons out there, five or six of us going together to swim and talk and smoke cigarettes, trying out love and friendship and loneliness like teen-agers in a pop song or a movie, but we always got home in time for supper, and we spent the evenings elsewhere, at clubs and discos and pubs, dressed in the clothes we thought suited us, waiting to be seen by boys we thought we liked. Nobody had ever gone swimming at the Twenty Two in the evening, but that was the best time when the weather was hot. There was a current that flowed through the hole—a current that nobody could quite explain, some underground run or spring deep in the earth—and it was cold and quick, a near-animal force moving and turning in the water. I had always felt that, how something alive seemed to brush against my skin, coming up out of the depths to pull at my legs or encircle my feet. It wasn’t just a surface motion, it was bone deep, a force with a shape of its own. Maybe it was a great hank of river weed turning below in the cold current, maybe it was just the way gravity works in water, but it felt like something that matched me exactly, the same shape and weight and volume, and it always seemed as if that something came to life the moment I stepped into the water.

On the few occasions when I met other people at the Twenty Two, I felt cheated, as if I had looked out of the window at home and found someone having a picnic or passing a bottle back and forth on our lawn. Mostly, though, I got to be alone. I liked to get there about six-thirty or seven, when people were still having supper or watching television, and I would just slip into the water and swim around in circles, to get cool. It wasn’t exercise, like swimming in a pool. I just liked being in the water and feeling that echo of myself deep down in the current, matching my every stroke, or falling still when I stopped moving. Sometimes I swam out to the middle and stayed there, treading water, listening to the quiet that surrounded me, a hiatus in the air, like a held breath. If other people came along while I was swimming, I would hear them long before they got to me, and I would just doggy-paddle over to the bank and get my stuff together so the moment wouldn’t be spoiled.

I’d never seen Arthur out there. I’d never seen him anywhere other than the bank, and it was a surprise when I caught sight of him one evening coming out of the water, white and strangely angular, in a pair of pale-blue shorts and a T-shirt, his hair plastered down over his forehead, his arms and chest glistening. I was about twenty yards away when I saw him, and before I could think it through I ducked in among some bushes. I was hoping he hadn’t noticed me, I suppose, because it was embarrassing, meeting him like that, but he’d seen me, all right. I’m pretty sure he saw me before I saw him, and he’d been watching me coming along the track, watching in complete silence, standing still in the cool water, waiting to see what would happen. I thought he wanted to embarrass me, just to see what I would do. That couldn’t have been true, though, or not altogether true anyway, because he turned quickly and swam away as soon as he saw that I’d seen him, gliding out to the middle. He was a good swimmer, easy and lithe, like some animal that belonged to the water, some creature of trust and grace; it was only a matter of seconds before he reached the center and dived, vanishing into the dark water, as if there were a way out down there, some exit that only he knew. One minute he was there, the next he was gone, leaving barely a ripple behind.

I didn’t know what to do. I stared at the point where he had disappeared, thinking he would come up for air, curious to see if he would call out to me, or wave, or whether he would just dive again, and keep on diving, till I left. It struck me then that I would have done exactly what he was doing if the roles had been reversed. I imagine I could have stayed down there for a minute or so, maybe more. Not long enough, though.

I don’t know how long Arthur stayed down, but it was more than a minute. More than five minutes, probably. I kept thinking he would have to come up soon, but he didn’t. He stayed under. The thought crossed my mind that the current had caught him and dragged him away; I even imagined having to go and get help, or having to dive in and save him when he came up half drowned and struggling for his life, but I didn’t do anything. I just stood there. Maybe he had some trick, like that thing you see in old films, where the spy or whoever sits for hours underwater, breathing through a hollowed stick or a reed. Maybe he was ready to drown rather than admit defeat and come up again, feeling awkward and cheated. I didn’t know, but I couldn’t quite manage to believe he was in any danger, and after a while I didn’t want to see his face, because I knew I had stolen a private moment from him. I wished I could have said something, maybe called out that I was leaving and he could come out now, but I didn’t say a word. I just turned around and walked back the way I came, following the track up to the road, with the cool of the water hole at my back, and a sound I almost heard, like a bird taking flight off the surface of the water, or a fish breaking the calm in the first gray of the evening, leaping out into the dizzy, unfamiliar world, to snatch its prize.



The summer passed, the hot days fading into a wet, sticky autumn. I saw Arthur at the bank from time to time: sometimes he spoke, mostly he just handed over his little bundle of checks and the paying-in slip, with the amounts made out in his neat, slightly childish handwriting, but he didn’t seem as distant, or as shy, as he had when he first came in. After our encounter at the Twenty Two, it was as if we had a secret between us, something we both knew about but had promised not to mention, and though nothing ever happened between us, I realized, come September, that I liked him a little, even if it wasn’t a liking that Marie would have understood.

Somewhere between the last warmth of the summer and the damp cool of Halloween, I noticed a change in Marie, and I knew it had something to do with Stan. I didn’t know at first, though, that it also had something to do with Arthur. Stan had never treated Arthur as a brother, from all accounts, but before that summer he had mostly just ignored him. As far as Stan was concerned, Arthur really was the boy in his father’s joke: a scrawny kid the tinkers didn’t want, sitting in a corner of the kitchen, dreaming his life away, never saying a word. Then, beginning that summer, everything changed. The first trouble had been about the money: Stan never had any, but that was no great shame till his brother started coming home with pockets full of checks and cash from his odd jobs. What was worse was that Arthur just kept squirrelling it all away in the bank: after he’d paid for his digs - which Stan almost never did - he saved whatever was left, going out every day with a packed lunch of peanut-butter sandwiches and not coming home till late, still not saying anything, but happy in a way that Stan didn’t understand, happy, or something like it, as if he had lain awake one night and hatched some foolproof scheme, some plan for a future that Stan couldn’t even have imagined. That went on for several weeks, and it drove Stan crazy, but he didn’t say anything to Arthur. He just took it out on Marie, sulking when they went out on dates to the Hearth or the Nags. Sometimes he’d take her out, then he’d leave her at a table with a couple of the other girls while he went wandering around the lounge, talking to his mates and doing deals, the way the old married men did with their wives. He’d buy her half a lager top, then he’d be off, playing pool with somebody Marie didn’t know or chatting to Jenny, behind the bar. He’d been out with Jenny once, he said. Now they were just good friends.

Marie could have sat out the sulks, if that had been all there was to it—but suddenly, with winter approaching, Arthur changed again. First, he bought a guitar. “A bloody guitar,” she said. “I mean, he doesn’t even know how to play.”

What kind of guitar?” I said.

She looked at me as if I were part of this great conspiracy against her happiness. “How do I know?” she said. “What difference does it make?”

I shook my head. I’d noticed a change in Arthur a week before, when he had come into the bank and, for the first time, made a withdrawal. I wouldn’t have thought much about it, except that he didn’t seem to know how to get money out of his account. He had to ask.

Is it an electric guitar or an acoustic is what I mean,” I said.

Marie thought a moment. “Acoustic,” she said. “He just sits there, in the front room, strumming. Stan can’t stand it. None of them can.”

Maybe he’s going to start a band,” I said.

Marie snorted. “That’ll be the day,” she said.

It turned out Arthur had no intention of starting a band. Stan asked him once, when Marie was there; it was an ugly little scene, with Stan and his dad poking fun at the younger brother while Arthur just sat at the kitchen table, stroking the guitar strings, with his head turned away toward the window. Marie said he didn’t say anything—he just sat there with a sad little smile on his face as if he felt sorry for them all, though you could see he was trying not to cry. She almost felt sorry for him herself, she said, but then he’d asked for it, really, what with his stupid guitar and his weird new clothes.

I’d seen Arthur at the bank the day before, and he’d been dressed as usual, in black jeans and a navy-blue shirt. “What clothes?” I asked her.

Oh, God,” Marie said. “You should see him. He’s completely changed. Bright stripy shirt, this weird-looking suede jacket. At least I think it’s suede.”

When did that start?”

Not long ago,” she said. “He’s completely different. He plays his guitar all day, then he goes out, nobody knows where. Stan’s dad says he’s got himself a fancy woman.”

I shook my head. I felt strangely disappointed in Arthur, maybe for doing all this stuff in front of his dad and Stan, and maybe because I could just see him with some woman, making a fool of himself. “I don’t think so,” I said. “Not Arthur.”

Marie laughed. It was a cruel laugh. “Oh, yes,” she said. “He’s fairly come out of his shell now he’s got a bit of money.” She gave me a hard look. “You missed your chance there,” she said.

I was annoyed then. Not with her but with myself, for getting involved in the conversation in the first place. It didn’t matter to me what Arthur McKechnie did. Good luck to him, if he wanted to blow his hard-earned money on the latest fashions and a guitar he couldn’t play. I looked at Marie, and I saw the little glint of nasty pleasure in her eyes. “You going out tonight?” I asked her.

Of course,” she said. I could see her thinking, What a stupid question.

With Stan?”

She rolled her eyes. “Yeah,” she said.

I nodded. “I’m not the only one who missed my chance,” I said. I regretted saying it as soon as it was out.

Marie’s face went very bare, then she laughed. “You’re pathetic,” she said, but it wasn’t that convincing, and I felt even worse, not just for her but for myself, that I could be so petty.



We found out later that Arthur McKechnie mostly just got dressed up in his odd clothes and sat alone in a Chinese restaurant with a half bottle of white wine and a plate of crispy fried duck. Or he would go to a church social and hide in a corner, watching the people dance. That was probably where he met Helen Walsh, and that was when the real trouble started.

It wasn’t much of a story, really. It seems that when Arthur was still in primary school Stan McKechnie and Helen Walsh were in middle school together. The Walshes had lived on Gloucester Way, two doors along from the McKechnies, and though they were never friendly—Joe Walsh always saw himself as a cut above—Stan had decided that he and Helen were an item, trailing along to school beside her, trying to make conversation, doing stuff to impress her, acting as if they had something more in common than a street address. I don’t think Helen ever took any of this seriously, but by the time he reached third year Stan was going around talking about her as his girlfriend, and he’d been upset when Joe Walsh did well and moved his family off the estate to one of those so-called executive houses with a separate dining room and French windows at the back leading onto a patio with raised beds and a walled yard. All the McKechnies had been upset, in their own way, to see the Walshes get on: Stan’s dad resented Joe’s success, saying he was just a brownnose anyhow, and the sisters put it about that May Walsh had a fondness for vodka. Stan hated the Walshes more than any of them.

Stan’s not happy,” Marie told me one day after work. “Arthur keeps taking his stuff.” She shook her head. “Big mistake.”

What do you mean, taking his stuff?” I couldn’t imagine Arthur as a thief, and if he were I couldn’t imagine Stan having anything he might want.

Just stupid stuff,” she said. “Clothes and stuff. He says he’s borrowing it, but Stan doesn’t let anybody borrow his things. Can you imagine?” I shook my head to confirm that I couldn’t. “And then he wears Stan’s best shirt to go out on a date with that stuck-up Walsh bitch.”

He didn’t.”

Oh, yes.”

No,” I said. “I mean, it wouldn’t have been a date, would it? Can you imagine Helen with one of the McKechnies?”

Marie shot me an ugly look. “What’s that supposed to mean?” she said.

You know what I mean,” I said. “I’m not talking about you and Stan—”

Yes, you are,” she said. “That’s exactly what you’re talking about.” She lit a cigarette. She didn’t usually smoke in the house, in case Dad caught her. “But me and Stan are happy. I don’t care what Dad says. I love him and I’m going to marry him.” She sounded like a little girl in the school playground. “And you can take a look at yourself before you start judging other people.” She turned away slightly and stood looking out of the window, with her cigarette hand pressed to her cheek.

I didn’t see any point in replying to that. I wasn’t angry with her—I wasn’t even upset. For a moment, I even wanted to go over and give her a hug or something, but we didn’t do that kind of thing in our family. “I’m not judging anybody,” I said, after a while. “I just want you to be happy.”

She looked at me then, and I could see she was close to tears. “Happy,” she said quietly, as if it were some foreign word whose meaning she couldn’t quite remember. She laughed. “Happy,” she said again. She took a draw on the cigarette, and, in the smoke and the early evening light, she looked almost pretty, like a girl in a television show on the night before she runs away from everything, written out of the script to begin a new life somewhere else.



It snowed early that year: a freak blizzard, a beautiful anomaly. It was the kind of snow you see in films, white and perfect and deep, the cars moving slowly along white roads, the people coming out of their houses in the morning or stopping on the High Street to notice the light. For a while, it was as if the works didn’t exist; the snow just kept falling, white upon white upon white, and nothing was gray or smoky or tainted enough to leave a lasting stain. It really was beautiful. People came into the bank in coats and gloves, brushing the snowflakes off their shoulders and hair at the door, smiling to themselves, gladdened by the brightness of the day. You could see the child in every face, a buried life rising to the surface, a lightness about the mouth and eyes, a childish sweetness returning to a dried-out voice. Everyone seemed happier, or almost everyone. Stan McKechnie wasn’t happy. I would hear about it from Marie from time to time—the petty details, the black moods, the muttered threats—but I had stopped paying attention. It just seemed too ridiculous, in all that snow and light.

The snow didn’t last, though. It was replaced by a gray lull, all smoke and pig iron. So what I remember now about the day Stan McKechnie almost killed his brother is how the light changed after the snow melted. It was a day that could have happened only in a town like ours: the sun was bright, warm even, but there was a chemical haze in the air, a blurred, dusty quality to the light that we knew from having lived so long in the shadow of the works. That was what I knew about that morning, that pale haze, and the thin ferrous smell that became a taste in the mouth, part rust, part churchyard—but there was something else that day, something I hadn’t felt before. If I had to describe it, I’d say it was a sense of how things must have been before any of us came to be in that place, a stubborn beauty in the light that filled the trees, a sense of the land around us, with its buried dead and winter trees, its livestock and clouds and fence posts, there before we were and treating us as an exception to the norm, an ugly but fairly minor crease in the fabric of things, irrelevant to the larger picture.

The attack happened because of Stan’s black sweater. That was what people said, at least, when it was all over: “That Stan McKechnie, he almost murdered his brother, all because of a sweater.” Marie told me about it while we were both getting ready to go out, on the night Stan and Arthur finally came to blows. That afternoon, Arthur had borrowed Stan’s aftershave, then put on the new black sweater that Stan had bought the weekend before, even though Stan had told him a thousand times that he didn’t want anybody touching his things. Nobody knew where Arthur had gone, but Stan had rung Marie up and told her he was going to do something about it once and for all. Marie had tried to calm him down, but she knew there was no point; Stan had been heading for a big blowout for weeks now, she said, and she knew trouble was coming. Nobody could have predicted how far it would go, and nobody would ever understand what had led up to the final moments. It would be just another story people told each other, another cautionary tale about the McKechnies, how in that family one brother could kick the other senseless over a borrowed sweater. Marie told me about it that night, all the while so wrapped up in her own worries that she didn’t even notice I was getting ready to go out. Then, when she had finished talking, and I’d told her not to worry, that it would all blow over, she realized.

“You got a date?” she asked, blurting it out, not hiding her surprise.

I laughed. “Don’t sound so shocked,” I said.

Who with?”

None of your business,” I said.

Oh, God!” She put her hands to her face. “It’s not Arthur, is it?”

I looked at her. She was serious, but I could see in her face that she wasn’t concerned about me—she just didn’t want this mess to get any bigger than it already was. I shook my head.

It’s not, is it?” she asked again. “Please tell me it’s not.”

I was tempted then to tell her it was, just to see the look on her face, but I didn’t. I just shook my head again. “Don’t be daft,” I said.



It wasn’t a real date, anyway. Somebody from the bank had asked me out, a tall, thin man called Peter who worked in business and foreign. He was a bit older than me, but I’d been bored and surprised when he asked, and I’d accepted his invitation to go for a drink at the Falcon before I registered what was happening. That’s how it goes in the workplace. All these office romances start out of boredom and wanting something to happen to break the monotony. As things turned out, it was a pretty monotonous evening, and I was regretting my mistake long before Arthur came into the lounge bar and stood waiting for someone to serve him. He was alone, all dressed up in Stan’s black sweater and a pair of greenish trousers; maybe he was meeting somebody, maybe he was just out to see what was happening. One thing I knew for sure was he wasn’t on a date with Helen Walsh. As I sat listening to Peter going on about his plans for the future, I watched Arthur order his drink, a lager top, and it occurred to me that I didn’t really know him. I told myself that it would be a mistake to get mixed up in his feud with Stan, that I really ought to mind my own business, but I was bored with Peter’s supposed prospects, and I was grateful for any excuse to get away from him, if only for a few minutes. Peter didn’t seem to mind when I told him there was someone I had to talk to. “Family business,” I said, by way of explanation. He just nodded and took a sip of his beer. Maybe he was bored with me, too.

Arthur didn’t see me coming. He hadn’t even noticed me when he came in, or maybe he had and didn’t want me to know. Maybe he was embarrassed about the Twenty Two after all. For the first time, it occurred to me that he might have been, and when he finally turned his head and saw me I knew I was making a mistake. Only it was too late to go back. I gave him a serious look. “Nice sweater,” I said.

He put his glass down on the bar and looked at me. He knew who I was, but he was surprised that I’d spoken. “Thanks,” he said. “It’s not mine. I just borrowed it.”

It suits you,” I said.

Thanks.”

You know Stan’s looking for you,” I said. The sooner I said what I had to say, I thought, the sooner we could get away from one another.

He looked puzzled. “Sorry?” he said; the moment he spoke, though, he worked out what I meant. He shook his head. “Oh, no,” he said.

Really,” I said. “He’s been building up to something for a long time.” I felt stupid: I sounded like somebody out of a soap, or a bad movie. What was I doing? None of this was any of my business. I glanced back at Peter. He had gone over to play the fruit machine. I turned back to Arthur. “It’s none of my business,” I said. “I just thought you ought to know.”

You’ve got it all wrong,” he said. “Stan is my brother.” He studied my face. “We’re brothers,” he said.

I know,” I said. I wanted to say more, but I couldn’t think of anything.

For a moment, I thought Arthur was going to laugh; then, as if noticing me for the first time, as if I were some puzzle he’d been gathering clues about for weeks and had only just solved, he gave me a serious, almost concerned look. “It’s all right,” he said. “I know you only mean well, but Stan’s my brother. He knows I wouldn’t do him any harm.”

I should have given up then. That would have been the sensible thing. I don’t know now why I carried on. “I don’t think he does,” I said. “He’s looking for you right now.”

He smiled softly. “How do you know that?” he asked.

My sister told me.” I really was embarrassed to hear myself saying that, like a kid telling tales. I knew it was hopeless, and I wanted to stop talking and just take hold of him and lead him somewhere, into the shadows for safety, out to the Twenty Two, to where he could hide under the water until the danger had passed.

Ah.” He leaned toward me, and the light from the optics shifted on his face a little, so he looked softer, less defined. “Marie is your sister.”

I nodded. For a moment, I thought I had got through to him—that my relationship to Marie had convinced him that I knew what I was talking about. For a moment, he put his head down and stared at the ground, and I thought he was thinking about what I had said. For a moment, maybe he was. I have no idea what went through his mind then, but when that moment had passed he was looking at me, smiling again, shaking his head almost imperceptibly. “Thanks for your concern,” he said. “But I’ll be all right.” He put his glass down on the bar; it was still half full, but he left it there and started away. “Honest,” he said. He seemed disappointed, for that one moment, but not with Stan. He was disappointed with me, maybe because he thought this was some game I was playing, some elaborate ruse to get his attention. That was possible. He did remember the Twenty Two, and he’d noticed me in the bank; maybe he liked me, and my talking to him about such things had made him feel awkward. All this was going through my mind as he turned to leave, but there was something else, something that I couldn’t have explained. I didn’t register it then, not in words, but I think that was when I knew he was already gone and that nothing anybody could have told him would have made the least difference to what he did next. Because, for all the most ordinary, all the most banal reasons, he was doomed. He was an innocent, a lost cause, a stranger in the only place he had ever known, and he couldn’t do anything about it. Under different circumstances, Arthur McKechnie would have been one of those people you read about in the newspaper: the schizoid boy who jumps out of a window thinking he can fly, the mad explorer who crosses the Arctic with nothing but a rucksack and a pair of crampons. He glanced back as he was going, and I could see that he knew as well as I did that there was nothing more to say, but he said it anyway. “Be seeing you,” he said.

An hour later, Stan caught up with him. I’m pretty sure Stan didn’t intend to hurt his own brother as badly as he did, not over a borrowed sweater. But then it wasn’t his intentions that mattered. He’s supposed to have told the police that he doesn’t remember what he did that night, but there were about a dozen witnesses, and they all gave more or less the same account: Arthur had been to the Hearth, and he was walking back home when he met Stan outside the kebab place on Gloucester Road; Stan had run up, shouting and throwing punches; Arthur had just stood there, not saying anything, taking the first couple of blows as if it were some kind of game—and he had a strange look on his face, the people said, an odd half smile that nobody could understand, though they all saw it, and they all said the same thing afterward, that it was the smile that made Stan crazy, that odd little smile that seemed to say Arthur wasn’t going to take what was happening seriously, not Stan’s anger or the punches raining in on him. Some of the people who saw it all said he must have been a bit simple, just to stand there grinning like that, provoking his attacker and not doing anything to defend himself.

When it was over, Stan didn’t make any serious effort to get away. He stood awhile, looking around at the gang of people who had been watching it all, as if he were surprised they hadn’t done anything to stop him. People said afterward that they’d thought Arthur was dead, the way he just lay there on the pavement, all twisted around and not moving. The ones who were there at the start knew they should have done something to stop it, but they all just stood watching, about eight or ten at the beginning and then more, the entire queue from the kebab shop pouring out on to the pavement to see what was going on. None of them tried to stop the attack, and nobody tried to take hold of Stan when he turned away and walked off down the road. He wasn’t running; he wasn’t even in a hurry. Somebody said later that he could have been out for a stroll, except that he had blood all over his coat and hands. He didn’t go toward his house, he walked the other way, and he didn’t stop walking until the police picked him up, an hour later. When they took him in, apparently, he told them he didn’t mean it. He hadn’t known what he was doing, he said. He just saw red.


After Stan was arrested, Marie wouldn’t leave the house. Everybody was talking about what had happened, telling old stories about some of the bad things Stan had done in the past, about the drug dealing and breaking and entering when he was in school, or that time with the Cronins and Bobby Curran in the Swan. Some of the people who had witnessed the attack—the ones who had stood by and done nothing—were even saying Stan was getting off lightly, because he should have been up for attempted murder instead of G.B.H. Meanwhile, Marie stayed off work and sat in her room with the radio on, though I doubt she ever heard it. Sometimes she came downstairs, still in her pajamas and dressing gown in the middle of the afternoon. She didn’t say much, and when she did speak she would say crazy stuff. “I wish I could just disappear,” she’d say. “I wish the earth would just open and swallow me up.”

We all knew that something needed to be done to get her out of this depression, but nobody wanted to take the first step. So we waited. Sometimes I’d have a talk with Mum, where we would go through all the usual arguments, then one of us would say something reassuring, and we’d get on with our lives. “It’ll pass,” Mum would say. “She’s bound to be upset after all.” Or I would point out that my sister, sitting upstairs in her dressing gown, was better off, now that Stan was behind bars. “If that’s what he could do to his brother,” I would say, starting a sentence I would never need to finish, and waiting for the little grimace of horror that signalled her agreement. I’m not saying we didn’t care. It was just that we didn’t know what to do, and we couldn’t really face the awkwardness of having to find out. Meanwhile, Marie grieved, and we went about our business, pretending there was nothing wrong.

They were probably doing much the same thing in the McKechnie household. The elder son had been locked up, and his brother was in a hospital ward; all the old man could do was sit indoors and hope the world passed him by till it found something else to talk about. Even the sisters were ashamed of what Stan had done, and they had always doted on him. I heard they all went as a family to visit Arthur in the hospital, and he wouldn’t even see them. He just waited till he was well enough, then he came into the bank, withdrew all the money that was left in his account, and walked back out into the gray afternoon, to God knows where. That was the last time I saw him, the day he came for his money, and he had a dark, set look to his eyes that frightened me a little. He didn’t come to my position to make the withdrawal he waited till another cashier was free and went to her. When he’d finished the transaction, he put the money in his coat pocket and muttered something under his breath; then he left, without even a backward glance. Nobody knows where he went. The best way to think of it is that he just disappeared.



The week before Christmas, it snowed again. I had gone up to the shops, and I was walking home, crossing the park on Weymouth Road when it began, thick and fast from the moment it started falling, settling on the grass and the thin, wet shrubs around the playground. It kept falling all along the street, whiting out the gardens, lying in thick folds on the hedges, and I couldn’t help but slow my pace, just to be out in all that white, watching things melt into this perpetual motion, so thick and fast by the time I got to my own front gate that I could hardly see. Everything was disappearing into the flow of it, houses and parked cars and pavement; behind me, the town was nothing but a rumor, a faint aftertaste of iron and smoke and a shadowy mass dwindling into the blizzard. At the gate, I looked back in the direction I had come from. The snow was completely different now from the snow we’d had in November: back then, it had been all brightness and visible marks, tracks and scuffs in the white turning to plum blue and black as darkness fell, but this was dark from the first, a new variant of dark, a new form. That first snow had been the snow in a film; this was the snow in a dream.

It was bitterly cold. I hadn’t noticed going out, but I felt it now, a pure cold seeping into my bones—and as the snow erased the gardens around me, I could feel this pure cold singling me out, isolating me on that street and erasing me, flake by flake, moment by moment. Marie had said she wanted to disappear, but she hadn’t meant it: what she really wanted was to go back to the time before she met Stan, when life seemed full of possibilities. She didn’t want to be invisible, she wanted to be seen as she saw herself, not as a character in a local news story. She wanted to be good. When she talked about disappearing, when she said she wished the earth would swallow her up, I knew that her shame wouldn’t last, and it wouldn’t matter much, in a year’s time, what had happened to her. She would meet someone else, and she would get married and live as our mother had lived; people would think of her as somebody’s wife, and then somebody’s mother, and she wouldn’t be invisible, ever.

But I would. I would be invisible. It was already happening, in this relentless, quick snow; I was already disappearing, and not just disappearing into that whiteness but into everything around me. Like a ghost in a film, melting into the scenery, I was starting to vanish from my life, not by going away somewhere but just by staying where I was and doing what I had always done. Working at the bank, making dinner, reading my books, swimming at the Twenty Two in the summer, walking in the snow in the winter. It had something to do with Arthur, all this vanishing, which was ridiculous but also true. Unlike Marie, I didn’t want the earth to open and swallow me up, but at that moment I knew I was already starting to fade away—and it wasn’t such a bad feeling, after all, to be disappearing. It wasn’t a bad thing, and maybe it was all I had ever wanted. To stay where I was and disappear into the wallpaper. To want nothing—not a good job, not a husband or children. Not money or happiness. Not what my parents would have called a future. My entire life would be like those mornings when the postman comes and stands at the door, sorting through a pile of cards and letters; he thinks nobody is at home, because the house is so quiet, but someone is in the kitchen all the time, listening to him fumble with the mail as she makes tea, or butters toast, not quite happy, if you want to talk about happiness, but not unhappy, either. It wasn’t the kind of thing you see in films or on television, but it seemed good to me, as I stood there in the snow, vanishing imperceptibly into the life I had not chosen but would not refuse, now that I knew what it was.

When I got inside, I found Marie standing in the kitchen, watching the kettle boil. Her face was white and empty, no makeup, her hair a mess. The windows were all misted up, and it occurred to me that she had probably been sitting there awhile.

Are you O.K.?” I asked.

She looked at me, but she didn’t speak. She had been in the middle of making tea, it seemed, when I came in, but she had forgotten what she was doing, or maybe decided that she couldn’t be bothered.

Can I get you something?” I asked.

She shook her head. “I keep thinking about Stan,” she said.

I nodded. “Of course you do,” I said. I took a step closer. I thought about reaching out and touching her, on the arm, or the shoulder, then decided against it.

She laughed softly. “It didn’t suit him,” she said. “I told him when he bought it. I said right away, when he tried it on, ‘It doesn’t suit you, Stan.’ ” She looked at me. “Anyway,” she said. “It was only a sweater.”

I nodded again. I didn’t know what to say, and I wanted to cross over to her and do something, but I didn’t know what. After a while, I fetched tea bags down from the cupboard, and finished making the tea. Then I put six slices of bread in the toaster. It was quiet now, no talk, no sound, only the silent continuum of snow at the window—and I wanted to make her see how beautiful it was, if not always, then at least for now, but when I turned around she was asleep in her chair, her head flopped back, her arms dangling at her sides. It was like a balancing act, something she had refined over the years, and no matter how precarious it looked I knew she would not fall. I considered taking my tea through to the sitting room, but I decided to stay and keep her company. Maybe she would wake up soon, and if she did maybe she would be hungry. That would be a good sign, I thought. It was always a good sign in books when people who had been depressed began eating again. It was the beginning of something: a new life, a recovery.

I put six more slices of bread into the toaster and fetched marmalade and a brand-new pot of black-currant jam from the cupboard. When it was all ready, I carried my cup and the two plates of freshly buttered toast to the table, one for her and one for me. I was hungry now, and I soon ate the portion I had made for myself, not bothering with the jam, just enjoying the taste of warm butter and crisp, fresh toast. It was delicious, like something from long ago, some childhood pleasure. Then, when I had finished that, I poured myself some tea, and because I was still hungry, and because I really did feel happy, sitting there in the quiet, watching the snow, I sneaked first one slice, then another, then all of the toast I had made for Marie, and ate it with the jam, while it was still warm.






























Sesuatu Seperti Happy


Pertama kali aku melihat Arthur McKechnie, ia datang ke bank dengan beberapa pemeriksaan. Saya baru saja mulai bekerja di sana, baru lulus dari sekolah dan sedikit gugup, saya kira, dan aku suka cara dia berperilaku, semua sopan dan baik berbicara, yang lebih daripada yang saya bisa mengatakan untuk beberapa pelanggan lain. Pada akhir bahwa transaksi, pertama hampir tanpa kata-kata, saya telah memutuskan bahwa ia seseorang yang dapat saya sukai, tapi saya juga melihat bahwa ia agak terlalu berbeda, salah satu dari orang-orang yang berpikir terlalu banyak tentang hal-hal yang mengganggu orang lain dengan, atau ia tidak membayar perhatian yang cukup kepada orang lain untuk memahami apa yang akan mereka lakukan, ketika push datang untuk mendorong. Saat ia berdiri di sana dengan pena di tangan, sangat jelas membaca lencana disematkan kerah saya, saya menemukan diri saya ingin mengguncang dia dari mimpi kecil dia masuk

Tentu saja, saya melihat nama saat ia menyerahkan membayar-in slip. Arthur McKechnie. Semua orang tahu McKechnies, dan kebanyakan orang tahu mereka banyak yang buruk, tapi aku tahu mereka terutama karena saya kakak Marie pacaran dengan yang terburuk dari mereka. Orang-orang akan mengatakan bahwa Stan McKechnie Marie tidak tepat baginya, yang kesalahan, karena semua oposisi yang hanya membuatnya semakin bertekad untuk tetap dengan dia. Selain itu, Stan tampan, jika Anda tidak belajar dia terlalu dekat. Tidak seperti ini Arthur, yang tampaknya menyusun dari kit, semua sudut dan kekacauan, dengan cast aneh pada mata dan mulut yang tidak terlihat sama sekali selesai, seperti mulut dalam sebuah gambar anak-anak. Aku tidak tahu kemudian bahwa dia adik Stan. Marie tidak pernah disebutkan sebuah Arthur, meskipun ia berbicara tentang saudara McKechnie sepanjang waktu. Kita semua melakukannya. Beberapa orang mengira gadis McKechnie bahkan lebih buruk dari saudara mereka, jika hanya karena mereka yang bagus dan berpakaian yang tampak cerdas dan, jika Anda tidak tahu mereka dari lama, Anda tidak melihat apa yang mereka mampu sampai terlalu terlambat. Dengan Stan, Anda tahu apa yang pada pandangan pertama, tidak peduli seberapa baik ia digosok sampai. Ada keburukan di wajahnya bahwa Anda tidak bisa ketinggalan, kecuali jika Anda adalah Marie dan ingin melewatkannya.

Arthur tidak banyak bicara. Dia hand0ed atas uang dan membayar-in slip, kemudian, ketika aku telah memproses transaksi tersebut, ia mengambil chit konfirmasi dan, hati-hati, membuat tidak berusaha menyembunyikan apa yang dia lakukan, menuliskan di bagian belakang apa yang dikatakan pada saya kerah lencana. Dia adalah seorang penulis lambat. Ia memegang pena dengan cara yang aneh, antara dua jari pertama dari tangan kirinya, dan ia miring putaran lengannya untuk membuat surat-surat, pencetakan mereka keluar besar: ". Fiona, trainee" Dia tidak peduli bahwa saya bisa melihat apa yang dia lakukan. Ketika ia selesai, ia mendongak dan mengangguk.

"Apakah ada hal lain yang bisa membantu anda dengan hari ini?" Tanya saya, tidak yakin apakah saya merasa geli atau terganggu.

Dia menggelengkan kepalanya. suara-Nya, ketika ia berbicara, begitu lembut. "Tidak hari ini, terima kasih," katanya, dengan penekanan, aneh bahkan sugestif pada Dia tersenyum kemudian "hari ini.", Hal ini merupakan jenis, ketat rahasia senyum, tapi itu tidak berarti, dan aku bisa melihat bahwa dia tidak 't kira ada sesuatu yang luar biasa dalam apa yang baru saja dilakukan. Dia tidak pintar, atau tidak sopan. Dia baru saja menulis nama saya di bagian belakang slip konfirmasi, cara seorang anak akan lakukan, karena alasan-alasan sendiri yang tidak ada hubungannya dengan orang lain.

Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi aku tidak bisa menemukan kata yang tepat. Aku hanya menggelengkan kepala yang sedikit dan memandang keluar untuk baris untuk pelanggan berikutnya - dan Arthur McKechnie berbalik untuk pergi, yang sedikit aneh senyum di wajahnya, senyum yang aku bisa melihat bahkan saat itu tanda tidak hanya rahasia kebahagiaan tetapi juga jatuh tak terelakkan nya. Aku tidak mengatakan aku tahu apa yang akan jatuh, atau mengklaim itu adalah firasat; Tuhan tahu manusia dibuat untuk jatuh, dan sebagian besar manusia di kota yang akan jatuh lebih awal daripada kemudian. Tapi aku melihat sesuatu yang luar biasa, dan aku menyesal sekarang bahwa saya tidak memperhatikan lagi.


Aku bertanya Marie tentang Arthur ketika saya pulang malam. Dia sibuk, bersiap-siap untuk pergi keluar dengan Stan, jadi saya pikir dia hanya mengangkat bahu itu pergi, tapi dia berhenti berdandan dan duduk menatapku melalui cermin, eyeliner nya melayang di udara.

"Arthur?" Katanya. "Di mana Anda bertemu dengannya, demi Tuhan?"

"Dia datang ke bank hari ini," kataku.

"Oh, ya?" Menjatuhkan Tangannya dan dia meringis. "Yah, jangan semakin tertarik padanya. Stan bilang dia gila. "

"Jadi, siapa dia, lalu?" Kataku, mengambil beberapa pakaian yang berserakan di sekitar tempat itu. Aku selalu membersihkan setelah Marie, bahkan sekarang, ketika kami tidak berbagi kamar lagi.
"Dia adik Stan, tentu saja," katanya. "Dia benar-benar kesal Stan, sekalipun."

"Oh." Terlipat Aku sweternya bubuk-biru dan menyimpannya di lemari laci. "Mengapa begitu?"

"Sesuatu harus dilakukan dengan uang," katanya. Dia melihat saat aku mengumpulkan tumpukan cucian jelas. "Kenapa? Kau tidak benar-benar tertarik Anda? "

Aku mendengus. "Tentu saja tidak," kata saya. "Saya tidak ingat Anda pernah menyebutkan bahwa Stan punya saudara."

"Ya, baik." Menyeberangi Tampak wajahnya khawatir. "Tidak banyak yang bisa dibicarakan. Aku hampir tidak melihatnya pada awalnya. Dia hampir tidak pernah ada saat aku berputar. Ketika dia, dia hanya duduk di sudut, membaca "Pikiran itu membuatnya menggigil.. "Orang tua Stan mengatakan Arthur bukan McKechnie nyata. Dia mengatakan Margaret pasti punya dia dari beberapa wanita yang bermain-main dia bertemu di luar lisensi-off "Dia mulai bekerja di makeup lagi.. "Bahkan mungkin benar, untuk semua aku tahu. Maksudku, dia tidak seperti Stan. "

"Jadi kenapa Stan jengkel dengan dia?"

Marie menggeleng. "Selidikilah aku," katanya. "Pokoknya, aku harus buru-buru. Aku akan terlambat. "

Saya belajar saat dia menerapkan sentuhan akhir ke wajahnya. Dia tidak cantik, tapi dia berusaha keras. Dia telah bekerja selama tiga tahun di jalur perakitan dan, meskipun ia tidak akan pernah mengakui itu, dia iri pada saya, memiliki pekerjaan yang baik di bank. Baginya, itu berarti saya memiliki masa depan. Tentu saja, saya tidak bisa mengatakan bahwa masa depan tidak berarti sebanyak bagiku karena ia pikir hal itu. Ini adalah pekerjaan yang baik dan semua orang bilang aku harus bersyukur, gadis paling dari latar belakang saya berakhir tanpa prospek, hanya delapan jam sehari di jalur pengepakan. Orang-orang selalu mengatakan betapa beruntungnya aku, seolah aku telah memenangkan lotre atau sesuatu. "Mana kau pergi, sih?" Saya bertanya.

Dia berdiri dan memberikan sedikit berputar. "Tidak tahu," katanya. "Saya tidak berpikir Stan punya uang."

"Yah," kataku. "Mungkin dia harus meminta Arthur untuk pinjaman." Aku tersenyum manis.

"Ha-ha," katanya. "Sangat lucu."


Marie tidak pernah berpikir banyak dariku, atau selera saya, jika menyangkut urusan hati. Itu mungkin adil untuk mengatakan bahwa saya lebih tampan, dan para guru di sekolah selalu disebut saya sebagai yang pintar, tapi ada rahasia besar itu, dengan anak laki-laki, memberikan sinyal yang tepat lebih penting daripada penampilan atau otak. Tepat sebelum itu, aku pacaran dengan anak laki-laki bernama Jack, tetapi ketika tidak berhasil aku merasakan lega aneh, seperti orang yang telah diselamatkan dari kebutuhan untuk mempertahankan beberapa berpura-pura kecil tetapi memakan waktu. Saya tidak seperti Marie. Dia selalu suka ide tentang cinta, bahkan pukul sembilan, dia punya pacar, anak bernama Tony Ross yang memberikan kartu nya di Natal dan pada hari ulang tahunnya. Semua melalui remaja awal, dia sudah sangat jelas menyukai anak laki-laki, dan mereka menyukainya, terutama karena anak laki-laki suka untuk disukai. Untuk Marie, intelijen pacar terburuk adalah jenis kewajiban, dan beberapa anak laki-laki saya membawa pulang tahu bagaimana menulis nama mereka sendiri dan melakukan aritmatika dasar, setidaknya. Yang lebih dari siapa pun bisa mengatakan untuk Stan, dan ini adalah salah satu alasan bahwa ayah saya mendapat begitu marah dengan Marie beberapa hari kemudian, sebelum ia meninggalkan pergeseran di karya.

"Stan McKechnie tidak akan berarti apa-apa," katanya, dalam gaya adat, tenang tetapi akhir. "Dia tidak bisa menyimpan pekerjaan, dia tidak tahu bagaimana menangani uang, ia ingin sesuatu untuk apa-apa. Suatu hari ia akan menemukan bahwa dunia tidak berutang padanya nafkah. Anda mengarahkan jelas pada dirinya, kau dengar? "

Marie selalu tampak benar-benar terkejut bahwa orang berpikir begitu sakit Stan, setelah semua, dia akan mengatakan, McKechnies bukanlah orang-orang terburuk di perumahan, bukan dengan cara lama. Stan telah beruntung: ibunya telah meninggal ketika ia masih pada usia yang rentan, dan saudara-saudara perempuannya telah memanjakannya busuk. Ayahnya adalah sedikit nakal, semua orang tahu bahwa, sebuah nakal dengan keinginan untuk botol, tapi Stan adalah melakukan yang terbaik yang dia bisa, dan dia punya rencana besar. Dia hanya butuh istirahat, itu saja. Tentu saja, itu sedih mendengarkan bicara seperti itu, dan aku tidak yakin dia bahkan meyakinkan dirinya sendiri banyak waktu. Faktanya adalah bahwa setelah dia memilih Stan dia tidak bisa melepaskannya, bahkan jika dia ingin. Dia tidak mau harus mengakui bahwa dia telah melakukan kesalahan, dia tidak bisa dilihat untuk menyerah pada tekanan. Bahkan ketika rumor tentang Bobby Curran mulai terjadi di sekitar, ia menolak untuk percaya bahwa Stan terlibat.

"Orang tidak harus menyebarkan cerita," katanya. "Tidak, kecuali mereka tahu semua fakta."

Fakta, ternyata, yang cukup jelas. Bobby Curran telah minum di White Swan ketika Vincent Cronin dan saudara-saudaranya telah datang. Ada telah darah buruk antara Vincent dan Bobby sejak musim dingin sebelumnya, ketika mereka naik ke sebuah argumen mabuk tentang sepeda motor di sebuah pesta Natal. Semua orang tahu urusan itu belum berakhir, tapi tidak ada yang terjadi sampai malam itu di Swan, enam bulan kemudian, ketika mereka menemukan Bobby sendirian dan setengah-potong di tempat di mana ia hampir tidak pernah minum. Para Cronins terlalu takut Bobby untuk memiliki persegi pergi dengan dia, bahkan malam itu, ketika itu tiga lawan satu, mereka tidak melakukan apa-apa langsung, karena tak satu pun dari mereka membawa. Mereka tidak bisa berjuang keluar dengan tinju dan sepatu bot, seperti pada hari-tua mereka harus bersenjata. Sejak Vincent tinggal tepat di seberang jalan, semua yang diperlukan adalah seseorang untuk mengawasi Bobby sehingga ia tidak meninggalkan, dan Cronins akan lari kembali ke Vincent flat untuk beberapa pisau. Stan adalah orang yang terus Bobby berbicara sementara anak laki-laki punya sendiri siap. Kemudian, ketika Bobby pergi kembali ke toilet, ia memberikan Cronins sinyal dan mereka pergi masuk

Itu lebih dalam detik: Bobby mungkin bahkan tidak tahu apa yang memukulnya. The Cronins berlari keluar, pakaian mereka berlumuran darah, tapi tidak ada yang mencoba untuk menghentikan mereka. Jim sang Tuan Tanah datang di sekitar bar dan keluar kembali untuk melihat apa yang terjadi, dan ia melakukan pertolongan pertama pada Bobby sementara seseorang menelepon polisi dan sebagian besar kebiasaan-Nya mencair, tidak ingin berada di sana ketika hukum itu tiba. Satu-satunya yang tetap tinggal adalah Stan McKechnie. Dia melihat polisi datang, dan ia mengamati tubuh yang sedang dibawa keluar, dan ia tidak pernah dipukul kelopak mata. Tidak ada yang tahu yang menyebarkan itu tentang bahwa dia terlibat, dan tak seorang pun dapat mengatakan dengan pasti bahwa cerita itu benar, tapi semua orang percaya itu - yang berarti bahwa tidak masalah apakah itu benar atau tidak.



Ini adalah musim panas yang keras, panas kekuningan. Udara tidak pernah cukup jelas pula, karena dari karya-karya, tapi tahun ini tebal dan kering, seperti bahan halus membungkus di sekitar wajah saya dan tangan. Bank seharusnya ber-AC, tetapi sistem tidak benar-benar bekerja, pada akhir hari, aku sangat ingin keluar ke suatu tempat dingin dan mencuci kain kasa tebal menghilangkan panas pada kulit saya. Kadang-kadang saya baru pulang ke rumah dan mandi, lalu duduk dengan jendela setengah terbuka menunggu malam, Marie keluar kota dengan Stan, orang tua saya di pergeseran kembali bekerja atau duduk di lantai bawah menonton acara permainan. Tapi sekarang dan lagi saya akan pergi ke kolam renang tua, tempat semua orang disebut Dua puluh Dua, dan menghabiskan waktu setengah jam atau lebih dalam air, tidak benar-benar berenang begitu banyak seperti tergantung di sana, ditangguhkan dalam desas-desus dari kesejukan yang naik dari kedalaman di bawah ini.

Biasanya, aku sendirian, meskipun semua orang tahu tentang tempat itu, di sekolah, kita telah menghabiskan sore akhir pekan di luar sana, lima atau enam dari kami pergi bersama-sama untuk berenang dan berbicara dan asap rokok, mencoba cinta dan persahabatan dan kesepian seperti remaja- belasan dalam sebuah lagu pop atau film, tapi kami selalu sampai di rumah pada waktu untuk makan malam, dan kami menghabiskan malam di tempat lain, di klub-klub dan diskotik dan pub, mengenakan pakaian yang kita pikir cocok kita, menunggu untuk dilihat oleh anak laki-laki kami pikir kita suka. Tidak ada yang pernah pergi berenang di Dua puluh Dua di malam hari, tapi itu adalah waktu terbaik ketika cuaca panas. Ada arus yang mengalir melalui lubang arus yang tak cukup bisa menjelaskan, beberapa jalankan bawah tanah atau mata air jauh di dalam bumi-dan itu dingin dan cepat, kekuatan dekat-hewan bergerak dan berputar di dalam air. Aku selalu merasa bahwa, bagaimana sesuatu yang hidup sepertinya menyenggol kulit saya, keluar dari kedalaman untuk menarik di kaki saya atau mengelilingi kakiku. Bukan hanya gerakan permukaan, itu tulang dalam, kekuatan dengan bentuk sendiri. Mungkin itu sebuah gulungan besar gulma sungai berbalik bawah dalam arus dingin, mungkin itu hanya cara gravitasi bekerja di air, tapi rasanya seperti sesuatu yang cocok dengan saya persis, bentuk yang sama dan berat dan volume, dan selalu tampak sebagai jika sesuatu yang datang ke hidup saat aku melangkah ke dalam air.

Pada beberapa kesempatan ketika saya bertemu orang-orang lain pada Dua puluh Dua, aku merasa tertipu, seolah-olah aku melihat keluar dari jendela di rumah dan menemukan seseorang yang memiliki piknik atau lewat botol bolak-balik di halaman kami. Kebanyakan, meskipun, saya harus sendirian. Aku suka ke sana sekitar enam tiga puluh atau tujuh, saat orang-orang masih makan malam atau menonton televisi, dan aku hanya akan masuk ke air dan berenang berputar-putar, untuk menjadi dingin. Bukan olahraga, seperti berenang di kolam renang. Aku hanya suka berada dalam air dan merasa bahwa gema diri jauh di dalam arus, pencocokan setiap stroke saya, atau jatuh masih ketika saya berhenti bergerak. Kadang-kadang saya berenang ke tengah dan tinggal di sana, menginjak air, mendengarkan tenang yang mengelilingi saya, absen di udara, seperti napas yang diadakan. Jika orang lain datang ketika saya sedang berenang, aku akan mendengar mereka jauh sebelum mereka sampai kepada saya, dan saya akan hanya doggy-dayung ke bank dan mendapatkan barang-barang saya bersama-sama sehingga saat ini tidak akan rusak.

Aku belum pernah melihat keluar Arthur sana. Aku belum pernah melihat di mana pun selain bank, dan itu mengejutkan ketika aku melihat dia suatu malam keluar dari air, putih dan aneh sudut, dalam celana pendek biru pucat dan T-shirt, rambutnya menempel di atas dahinya, lengannya dan berkilau dada. Saya sekitar dua puluh meter jauhnya ketika aku melihatnya, dan sebelum aku bisa berpikir melalui Aku merunduk di antara semak-semak. Aku berharap dia tidak melihat saya, saya kira, karena itu memalukan, bertemu dia seperti itu, tapi dia pernah melihat aku, baik-baik saja. Aku cukup yakin dia melihat saya sebelum saya melihatnya, dan ia telah menonton saya datang bersama-sama trek, menonton dalam keheningan lengkap, masih berdiri di air dingin, menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi. Saya pikir ia ingin mempermalukan saya, hanya untuk melihat apa yang akan kulakukan. Itu tidak bisa menjadi benar, walaupun, atau tidak sama sekali benar pula, karena ia berbalik cepat dan berenang menjauh begitu dia melihat bahwa aku melihatnya, meluncur ke tengah. Dia adalah seorang perenang yang baik, mudah dan luwes, seperti beberapa hewan yang berasal dari air, beberapa makhluk kepercayaan dan kasih karunia, itu hanya beberapa detik sebelum ia mencapai pusat dan menyelam, menghilang ke dalam air yang gelap, seolah-olah ada adalah jalan keluar di sana, beberapa keluar yang hanya dia tahu. Satu menit dia ada di sana, berikutnya ia pergi, meninggalkan hampir riak di belakang.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku menatap titik di mana ia menghilang, berpikir dia akan datang untuk udara, penasaran untuk melihat apakah ia akan memanggil saya, atau gelombang, atau apakah ia akan hanya menyelam lagi, dan terus menyelam, sampai aku pergi. Ini mengejutkan saya kemudian saya akan melakukan persis apa yang ia lakukan jika peran telah terbalik. Aku membayangkan aku bisa tinggal di sana selama satu menit atau lebih, mungkin lebih. Tidak cukup lama, meskipun.

Saya tidak tahu berapa lama tinggal Arthur turun, tapi itu lebih dari satu menit. Lebih dari lima menit, mungkin. Aku terus berpikir ia akan datang segera, tetapi ia tidak. Dia tinggal di bawah. Pikiran itu terlintas dalam pikiran saya bahwa saat ini telah menangkapnya dan menyeretnya pergi, aku bahkan membayangkan harus pergi dan mendapatkan bantuan, atau harus menyelam dan menyelamatkan dia ketika dia datang nggak setengah tenggelam dan berjuang untuk hidupnya, tapi aku ' t melakukan apa pun. Aku hanya berdiri di sana. Mungkin dia memiliki beberapa trik, seperti hal yang Anda lihat dalam film-film tua, di mana mata-mata atau siapa pun yang duduk selama berjam-jam di bawah air, bernapas melalui tongkat berongga atau buluh. Mungkin dia sudah siap untuk menenggelamkan daripada mengaku kalah dan datang lagi, merasa canggung dan ditipu. Aku tidak tahu, tapi aku tak bisa mengelola untuk percaya bahwa dia dalam bahaya apapun, dan setelah beberapa saat aku tidak ingin melihat wajahnya, karena aku tahu aku telah mencuri momen pribadi dari dia. Aku berharap aku bisa mengatakan sesuatu, mungkin yang disebut bahwa saya meninggalkan dan ia bisa keluar sekarang, tapi aku tidak mengucapkan sepatah kata pun. Aku hanya berbalik dan berjalan kembali cara saya datang, mengikuti lagu sampai jalan, dengan dingin dari lubang air di belakang saya, dan suara, aku hampir mendengar, seperti burung yang mengambil penerbangan dari permukaan air, atau ikan yang melanggar tenang dalam abu-abu pertama malam hari, melompat keluar ke pusing, dunia asing, merebut hadiah tersebut.



Musim panas berlalu, hari-hari panas memudar menjadi musim gugur, basah lengket. Aku melihat Arthur di bank dari waktu ke waktu: kadang-kadang dia berbicara, kebanyakan ia hanya menyerahkan bungkusan kecil nya cek dan membayar-in slip, dengan jumlah yang dibuat dalam tulisan tangannya rapi, sedikit kekanak-kanakan, tetapi ia tidak tampak seolah-jauh, atau malu, seperti yang ia ketika ia pertama kali masuk Setelah pertemuan kami pada Dua puluh Dua, seolah-olah kita memiliki sebuah rahasia di antara kami, sesuatu yang kita berdua tahu tentang tetapi telah berjanji tidak lagi, dan meskipun tidak ada yang terjadi di antara kita, saya menyadari, datang September, bahwa aku menyukainya sedikit, bahkan jika wasn'ta suka bahwa Marie akan mengerti.

Di suatu tempat antara kehangatan terakhir musim panas dan lembab dingin Halloween, saya melihat perubahan pada Marie, dan aku tahu itu ada hubungannya dengan Stan. Aku tidak tahu pada awalnya, meskipun, bahwa ia juga harus ada hubungannya dengan Arthur. Stan tidak pernah diperlakukan Arthur sebagai saudara, dari semua account, tapi sebelum musim panas bahwa dia kebanyakan hanya mengabaikannya. Sejauh Stan prihatin, Arthur benar-benar anak dalam lelucon ayahnya: seorang anak kurus yang atik tidak mau, duduk di sudut dapur, bermimpi hidupnya pergi, tak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian, awal musim panas itu, segalanya berubah. Masalah pertama telah tentang uang: Stan tidak pernah memiliki apapun, tapi itu ada rasa malu besar sampai saudaranya mulai pulang dengan kantong penuh cek dan uang tunai dari pekerjaan yang aneh nya. Apa yang lebih buruk adalah bahwa Arthur terus squirrelling semua itu di bank: setelah ia dibayar untuk menggali nya - yang hampir tidak pernah Stan - ia menyelamatkan apa pun yang kiri, keluar setiap hari dengan makan siang sandwich selai kacang dan tidak pulang sampai larut, masih tidak mengatakan apa-apa, tapi senang dengan cara yang Stan tidak mengerti, bahagia, atau sesuatu seperti itu, seolah-olah ia berbaring terjaga satu malam dan menetas beberapa skema sangat mudah, beberapa rencana untuk masa depan Stan yang bahkan tidak bisa membayangkan. Yang berlangsung selama beberapa minggu, dan melaju Stan gila, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa untuk Arthur. Dia hanya membawanya keluar pada Marie, merajuk ketika mereka pergi berkencan ke Pos Gizi atau Nags. Kadang-kadang ia akan membawanya keluar, maka ia akan meninggalkannya di meja dengan beberapa gadis-gadis lain sementara ia berkeliaran di lounge, berbicara dengan teman-temannya dan melakukan transaksi, cara pria menikah tua itu dengan istri-istri mereka . Dia membeli setengah nya top bir, maka ia akan pergi, bermain kolam renang dengan seseorang Marie tidak tahu atau mengobrol dengan Jenny, di belakang bar. Dia sudah keluar dengan Jenny sekali, katanya. Sekarang mereka hanya teman baik.

Marie bisa duduk keluar merajuk, jika yang telah semua ada untuk itu-tapi tiba-tiba, dengan musim dingin mendekat, Arthur berubah lagi. Pertama, ia membeli sebuah gitar. "Sebuah gitar berdarah," katanya. "Maksudku, dia bahkan tidak tahu cara bermain."

"Apa gitar?" Kataku.

Dia menatapku seolah-olah aku adalah bagian dari konspirasi besar terhadap kebahagiaan nya. "Bagaimana saya tahu?" Katanya. "Apa bedanya?"

Aku menggeleng. Aku akan melihat perubahan pada Arthur seminggu sebelum, ketika ia datang ke bank dan, untuk pertama kalinya, membuat penarikan. Saya tidak akan berpikir banyak tentang itu, kecuali bahwa ia tampaknya tidak tahu cara mendapatkan uang dari rekening. Dia harus bertanya.

"Apakah itu sebuah gitar listrik atau akustik adalah apa yang saya maksud," kataku.

Marie berpikir sejenak. "Acoustic," katanya. "Dia hanya duduk di sana, di ruang depan, memetik. Stan tidak tahan. Tidak satupun dari mereka bisa. "

"Mungkin dia akan memulai sebuah band," kataku.

Marie mendengus. "Itu akan menjadi hari," katanya.

Ternyata Arthur tidak berniat untuk memulai sebuah band. Stan bertanya kepadanya sekali, ketika Marie ada di sana; itu adalah sebuah adegan kecil yang jelek, dengan Stan dan ayahnya menusuk menyenangkan pada adik sementara Arthur hanya duduk di meja dapur, mengelus senar gitar, dengan kepala berpaling ke jendela . Marie mengatakan, dia tidak mengatakan apa-apa-ia hanya duduk di sana dengan senyum sedih di wajahnya seolah-olah ia merasa kasihan pada mereka semua, meskipun Anda bisa melihat dia berusaha untuk tidak menangis. Dia hampir merasa kasihan padanya sendiri, katanya, tapi kemudian ia meminta untuk itu, sungguh, apa dengan gitar bodoh dan pakaian aneh-nya baru.

Aku pernah melihat Arthur di bank hari sebelumnya, dan ia telah berpakaian seperti biasa, dengan celana jins hitam dan kemeja biru tua. "Apa pakaian?" Tanya saya padanya.

 "Oh, Tuhan," kata Marie. "Anda harus melihat dia. Dia benar-benar berubah. Bright bergaris kemeja, jaket suede ini tampak aneh. Setidaknya aku pikir itu suede. "

"Kapan mulai itu?"

"Belum lama ini," katanya. "Dia benar-benar berbeda. Dia bermain gitar sepanjang hari, kemudian ia pergi keluar, tidak ada yang tahu di mana. ayah Stan mengatakan dia punya sendiri seorang wanita mewah. "

Aku menggeleng. Aku merasa aneh kecewa Arthur, mungkin untuk melakukan semua hal ini di depan ayahnya dan Stan, dan mungkin karena aku hanya bisa melihat dia dengan seorang wanita, mempermalukan dirinya sendiri. "Saya tidak berpikir begitu," kataku. "Tidak Arthur."

Marie tertawa. Itu adalah tertawa kejam. "Oh, ya," katanya. "Dia cukup keluar dari cangkangnya sekarang dia punya sedikit uang." Dia menatapku keras. "Anda kehilangan kesempatan di sana," katanya.

Saya kesal kemudian. Tidak bersamanya tetapi dengan diriku sendiri, untuk terlibat dalam percakapan di tempat pertama. Itu tidak masalah bagi saya apa Arthur McKechnie lakukan. Good luck padanya, jika ia ingin meniup uangnya susah payah pada mode terbaru dan gitar ia tidak bisa bermain. Aku menatap Marie, dan saya melihat kilatan sedikit kesenangan jahat di matanya. "Anda akan pergi malam ini?" Tanya saya padanya.

"Tentu saja," katanya. Aku bisa melihat dia berpikir, "Apa pertanyaan bodoh.

"Dengan Stan?"

Dia memutar matanya. "Yeah," katanya.

Aku mengangguk. "Saya bukan satu-satunya yang merindukan kesempatan saya," kataku. Aku menyesal mengatakan secepat itu keluar.

Wajah Marie berjalan sangat telanjang, kemudian dia tertawa. "Kau menyedihkan," kata dia, tapi bukan itu meyakinkan, dan saya merasa lebih buruk lagi, bukan hanya untuk tetapi dia untuk diriku sendiri, bahwa aku bisa begitu kecil.



Kami menemukan kemudian bahwa Arthur McKechnie kebanyakan hanya berpakaian di pakaian aneh dan duduk sendirian di restoran Cina dengan setengah botol anggur putih dan sepiring bebek goreng renyah. Atau dia akan pergi ke gereja sosial dan bersembunyi di sudut, melihat tarian rakyat. Itu mungkin di mana ia bertemu Helen Walsh, dan saat itulah masalah sebenarnya dimulai.

Bukan banyak cerita, benar-benar. Tampaknya bahwa ketika Arthur masih di sekolah dasar Stan McKechnie dan Helen Walsh berada di sekolah menengah bersama-sama. Para Walshes telah tinggal di Jalan Gloucester, dua pintu sepanjang dari McKechnies, dan meskipun mereka tidak pernah ramah-Joe Walsh selalu melihat dirinya sebagai cut a di atas-Stan telah memutuskan bahwa dia dan Helen adalah item, trailing sepanjang ke sekolah sampingnya, mencoba untuk membuat percakapan, melakukan hal-hal membuatnya terkesan, bertindak sebagai jika mereka memiliki sesuatu lebih banyak kesamaan dari alamat jalan. Saya tidak berpikir Helen pernah mengambil semua ini serius, tapi pada saat ia mencapai tahun ketiga Stan sedang terjadi di sekitar bicarakan ketika dia pacarnya, dan ia marah ketika Joe Walsh tidak baik dan keluarganya pindah dari harta ke salah satu rumah-rumah eksekutif yang disebut dengan ruang makan yang terpisah dan jendela Prancis di bagian belakang menuju ke sebuah teras dengan tempat tidur mengangkat dan halaman yang bertembok. Semua McKechnies telah marah, dengan cara mereka sendiri, untuk melihat Walshes dapatkan di: ayah Stan marah sukses Joe, mengatakan bahwa ia hanya bagaimanapun brownnose, dan para suster menaruhnya tentang itu Mei Walsh memiliki menyukai untuk vodka. Stan membenci Walshes lebih dari salah satu dari mereka.

"Stan tidak senang," kata Marie saya satu hari setelah bekerja. "Arthur terus mengambil barang-barangnya." Dia menggeleng. "Big kesalahan."

"Apa maksudmu, mengambil barang-barangnya?" Saya tidak bisa membayangkan Arthur sebagai pencuri, dan jika ia adalah aku tidak bisa membayangkan Stan memiliki apa pun yang mungkin ingin.

"Hanya hal-hal bodoh," katanya. "Pakaian dan barang-barang. Dia bilang dia meminjam, tapi Stan tidak membiarkan siapa pun meminjam barang-barangnya. Dapatkah Anda bayangkan? "Menggelengkan kepala saya untuk mengkonfirmasi bahwa saya tidak bisa. "Dan kemudian dia memakai kemeja Stan terbaik untuk pergi berkencan dengan jalang Walsh terjebak-up."

"Dia tidak."

"Oh, ya."

"Tidak," kataku. "Maksudku, itu tidak akan kencan, kan? Dapatkah Anda bayangkan Helen dengan salah satu McKechnies? "

Marie menembak saya sebuah terlihat jelek. "Apa itu maksudnya?" Katanya.

"Kau tahu apa yang saya maksud," kataku. "Aku tidak berbicara tentang Anda dan Stan-"

"Ya, kau," katanya. "Itulah apa yang sedang Anda bicarakan." Menyalakan Dia rokok. Dia tidak biasa merokok di dalam rumah, dalam kasus Dad menangkapnya. "Tapi aku dan Stan bahagia. Saya tidak peduli apa kata Dad. Aku mencintainya dan aku akan menikah dengannya "Dia terdengar seperti seorang gadis kecil di halaman sekolah.. "Dan Anda dapat melihat diri sendiri sebelum Anda mulai menghakimi orang lain." Dia berpaling sedikit dan berdiri melihat keluar jendela, dengan tangan rokoknya menempel di pipinya.

Aku tidak melihat gunanya membalas itu. Aku tidak marah padanya-aku bahkan tidak marah. Untuk beberapa saat, aku bahkan ingin pergi lagi dan memberinya pelukan atau sesuatu, tapi kami tidak melakukan hal semacam itu dalam keluarga kami. "Saya tidak menghakimi siapa pun," kataku, setelah beberapa saat. "Aku hanya ingin kau bahagia."

Dia menatapku lalu, dan aku bisa melihat ia hampir menangis. "Happy," katanya tenang, seolah-olah itu beberapa kata asing yang maknanya dia tidak bisa begitu ingat. Dia tertawa. "Happy," katanya lagi. Dia mengambil menggambar pada rokok, dan, di asap dan cahaya sore hari, ia tampak hampir cantik, seperti seorang gadis di sebuah acara televisi pada malam sebelum ia melarikan diri dari segala sesuatu, ditulis script untuk memulai yang baru kehidupan di tempat lain.



Salju turun awal tahun itu: badai aneh, anomali yang indah. Itu adalah jenis salju yang Anda lihat dalam film, putih dan sempurna dan mendalam, mobil-mobil bergerak perlahan di sepanjang jalan putih, orang-orang keluar dari rumah mereka di pagi hari atau menghentikan di High Street untuk melihat cahaya. Untuk sementara, hal itu seolah-olah bekerja tidak ada; salju terus jatuh, putih di atas putih di atas putih, dan tidak ada yang abu-abu atau berasap atau tercemar cukup untuk meninggalkan noda abadi. Ini benar-benar indah. Orang-orang datang ke bank di mantel dan sarung tangan, menyikat kepingan-kepingan salju dari bahu dan rambut di pintu, tersenyum untuk diri mereka sendiri, gembira dengan kecerahan hari. Anda bisa melihat anak dalam setiap wajah, dikubur hidup naik ke permukaan, sebuah ringan tentang mulut dan mata, rasa manis kekanak-kanakan kembali ke suara kering-out. Semua orang tampak semua orang lebih bahagia, atau hampir. Stan McKechnie tidak senang. Saya akan mendengar tentang hal itu dari Marie dari waktu ke waktu-rincian kecil, suasana hati hitam, ancaman bergumam-tapi aku sudah berhenti memperhatikan. Sepertinya terlalu konyol, dalam semua yang salju dan cahaya.

Salju tidak bertahan, meskipun. Itu diganti dengan tenang abu-abu, asap, dan besi babi. Jadi apa yang saya ingat sekarang tentang hari Stan McKechnie hampir membunuh saudaranya adalah bagaimana lampu berubah setelah salju mencair. Itu adalah hari yang bisa terjadi hanya di kota seperti kita: matahari terang, hangat bahkan, tetapi ada kabut bahan kimia di udara, buram, kualitas berdebu untuk cahaya yang kita tahu dari memiliki hidup begitu lama di bayangan dari karya-karya. Itulah yang saya tahu tentang pagi itu, bahwa kabut pucat, dan bau besi tipis yang menjadi rasa dalam mulut, karat bagian, gereja bagian-tapi ada sesuatu yang lain hari itu, sesuatu yang aku tidak merasa sebelumnya. Jika saya harus menggambarkannya, aku akan mengatakan itu adalah rasa bagaimana hal-hal pasti terjadi sebelum salah satu dari kami datang untuk berada di tempat, cantik keras kepala dalam terang yang memenuhi pohon-pohon, rasa tanah di sekitar kita , dengan pohon-pohon mati yang dikuburkan dan musim dingin, ternak dan awan dan tiang pagar, ada sebelum kami dan memperlakukan kami sebagai pengecualian dari norma, sebuah lipatan jelek tapi cukup kecil dalam kain hal, tidak relevan dengan gambar yang lebih besar.

Serangan itu terjadi karena sweater hitam Stan. Itulah yang orang bilang, setidaknya, ketika semuanya berakhir: ". Itu McKechnie Stan, ia hampir membunuh saudaranya, semua karena sweter" Marie mengatakan kepada saya tentang hal itu sementara kami berdua bersiap-siap untuk pergi keluar, pada Stan malam dan Arthur akhirnya datang ke pukulan. Sore itu, Arthur telah meminjam aftershave Stan, kemudian mengenakan sweter hitam baru yang telah membeli Stan akhir pekan sebelumnya, meskipun Stan telah mengatakan kepadanya seribu kali bahwa dia tidak ingin orang menyentuh barang-barangnya. Tak ada yang tahu di mana Arthur sudah pergi, tapi Stan berdering Marie dan mengatakan ia akan melakukan sesuatu tentang hal itu sekali dan untuk semua. Marie telah mencoba menenangkannya, tapi ia tahu tak ada gunanya; Stan sudah mengarah ke ledakan besar selama berminggu-minggu sekarang, katanya, dan ia tahu masalah datang. Tidak ada yang bisa diprediksi seberapa jauh ia akan pergi, dan tidak ada yang pernah akan mengerti apa yang telah mengarah ke saat-saat akhir. Ini akan menjadi cerita lain hanya orang mengatakan satu sama lain, lain kisah peringatan tentang McKechnies, bagaimana di bahwa saudara satu keluarga bisa menendang pingsan lainnya atas sweter dipinjam. Marie bercerita tentang malam itu, semua sementara begitu sibuk dengan kecemasannya sendiri bahwa dia bahkan tidak menyadari aku sedang bersiap-siap untuk pergi keluar. Kemudian, ketika ia selesai bicara, dan aku mengatakan padanya untuk tidak khawatir, bahwa itu yang bertiup di atas, ia menyadari.

"Kau punya kencan?" Tanyanya, melontarkan keluar, tidak menyembunyikan terkejut.

Aku tertawa. "Jangan terdengar begitu terkejut," kataku.

"Dengan siapa?"

"Bukan urusanmu," kataku.

"Oh, Tuhan!" Dia menaruh tangannya ke wajahnya. "Ini bukan Arthur, kan?"

Aku menatapnya. Dia serius, tapi aku bisa melihat di wajahnya bahwa dia tidak peduli tentang aku-dia hanya tidak ingin kekacauan ini untuk mendapatkan lebih besar daripada yang sudah berada. Aku menggeleng.

"Bukan, kan?" Ia bertanya lagi. "Tolong beritahu saya itu tidak."

Aku tergoda kemudian memberitahunya itu, hanya untuk melihat raut wajahnya, tapi aku tidak. Aku hanya menggeleng lagi. "Jangan bodoh," kataku.



Itu bukan tanggal yang sesungguhnya, anyway. Seseorang dari bank telah meminta saya keluar, seorang pria, tinggi tipis yang disebut Petrus yang bekerja dalam bisnis dan asing. Dia sedikit lebih tua dari saya, tapi saya sudah bosan dan terkejut ketika dia bertanya, dan aku menerima undangan untuk pergi untuk minum di Falcon sebelum saya mendaftar apa yang terjadi. Begitulah cara ia pergi di tempat kerja. Semua romances kantor mulai bosan dan menginginkan sesuatu terjadi untuk memecahkan suasana yang membosankan. Sebagai sesuatu ternyata, itu adalah malam yang cukup monoton, dan saya menyesali kesalahan saya jauh sebelum Arthur masuk ke lounge bar dan berdiri menunggu seseorang untuk melayani Dia. Ia sendirian, semua berdandan Stan sweter hitam dan sepasang celana panjang kehijauan, mungkin ia bertemu seseorang, mungkin dia hanya keluar untuk melihat apa yang terjadi. Satu hal yang saya tahu pasti adalah ia tidak kencan dengan Helen Walsh. Saat aku duduk mendengarkan Petrus terjadi tentang rencana untuk masa depan, aku melihat Arthur memesan minuman, seorang atas bir, dan aku sadar bahwa aku tidak benar-benar kenal dia. Saya berkata pada diriku sendiri bahwa akan menjadi suatu kesalahan untuk ikut campur dalam perseteruan dengan Stan, bahwa saya benar-benar harus pikiran bisnis saya sendiri, tapi aku bosan dengan prospek Petrus seharusnya, dan aku bersyukur atas alasan apapun untuk menjauh dari dia , jika hanya untuk beberapa menit. Petrus tidak keberatan ketika saya mengatakan kepadanya ada seseorang aku harus bicara. "Keluarga bisnis," kataku, dengan cara penjelasan. Dia hanya mengangguk dan meneguk birnya. Mungkin dia bosan dengan saya, juga.

Arthur tidak melihat saya datang. Dia bahkan tidak melihat saya ketika dia datang, atau mungkin dia dan tidak ingin aku tahu. Mungkin dia merasa malu tentang Dua puluh Dua setelah semua. Untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa ia mungkin telah, dan ketika akhirnya ia menoleh dan melihat saya, saya tahu saya sedang membuat kesalahan. Hanya saja sudah terlambat untuk kembali. Aku menatapnya serius. "Sweater bagus," kata saya.

Dia meletakkan gelasnya di atas bar dan menatapku. Dia tahu siapa aku, tapi dia terkejut bahwa aku berbicara. "Terima kasih," katanya. "Ini bukan milikku. Aku hanya meminjamnya. "

"Ini cocok untukmu," kataku.

"Terima kasih."

"Kau tahu Stan mencarimu," kataku. Semakin cepat saya mengatakan apa yang harus saya katakan, saya pikir, semakin cepat kita bisa melarikan diri dari satu sama lain.

Dia tampak bingung. "? Maaf" katanya, saat ia berbicara, meskipun, ia bekerja di luar apa yang saya maksudkan. Dia menggelengkan kepalanya. "Oh, tidak," katanya.

"Sungguh," kataku. "Dia sudah membangun sesuatu untuk waktu yang lama." Merasa aku bodoh: saya terdengar seperti seseorang keluar dari sabun, atau film yang buruk. Apa yang saya lakukan? Semua ini adalah urusanku. Aku melirik kembali pada Petrus. Dia harus pergi ke bermain mesin buah. Aku berbalik kembali ke Arthur. "Itu urusanku," kataku. "Saya hanya berpikir kau harus tahu."

"Kau punya itu semua salah," katanya. "Stan adalah saudara saya." Ia belajar wajahku. "Kami saudara-saudara," katanya.

"Aku tahu," kataku. Aku ingin mengatakan lebih, tapi aku tidak bisa memikirkan apa pun.

Untuk sesaat, saya pikir Arthur akan tertawa, kemudian, seolah-olah melihat saya untuk pertama kalinya, seolah-olah aku beberapa teka-teki ia telah mengumpulkan petunjuk tentang selama berminggu-minggu dan baru saja diselesaikan, ia memberikan saya serius, hampir prihatin melihat. "Tidak apa-apa," katanya. "Aku tahu kau hanya bermaksud baik, tetapi Stan adikku. Dia tahu aku tidak akan melakukan apapun menyakitinya. "

Seharusnya aku menyerah kemudian. Itu akan menjadi hal yang masuk akal. Saya tidak tahu sekarang mengapa aku terus. "Saya tidak berpikir dia," kataku. "Dia mencari Anda sekarang."

Dia tersenyum lembut. "Bagaimana kau tahu?" Ia bertanya.

"Adik saya bilang." Aku benar-benar merasa malu mendengar diriku sendiri mengatakan bahwa, seperti anak kecil menceritakan kisah-kisah. Aku tahu itu sia-sia, dan aku ingin berhenti bicara dan hanya memegang dia dan membawa dia di suatu tempat, ke dalam kegelapan untuk keselamatan, keluar ke Dua puluh Dua, ke tempat dia bisa bersembunyi di bawah air sampai bahaya telah berlalu.

"Ah." Membungkuk Dia ke arahku, dan cahaya dari optik bergeser di wajahnya sedikit, sehingga ia tampak lebih lembut, kurang didefinisikan. "Marie adalah kakakmu."

Aku mengangguk. Untuk sesaat, saya pikir saya telah berhasil melewati padanya-bahwa hubungan saya untuk Marie telah meyakinkannya bahwa aku tahu apa yang saya bicarakan. Untuk beberapa saat, ia meletakkan kepalanya ke bawah dan menatap tanah, dan saya pikir dia sedang memikirkan apa yang saya katakan. Untuk beberapa saat, mungkin dia. Aku tidak tahu apa yang terjadi dalam pikirannya itu, tetapi ketika saat itu telah berlalu dia menatapku, tersenyum lagi, menggelengkan kepalanya nyaris tak kentara. "Terima kasih atas perhatian Anda," katanya. "Tapi saya akan baik-baik saja." Dia meletakkan gelasnya di atas meja bar, itu masih setengah penuh, tetapi ia meninggalkannya di sana dan mulai pergi. "Jujur," katanya. Dia tampak kecewa, karena saat itu satu, tetapi tidak dengan Stan. Dia kecewa dengan saya, mungkin karena dia pikir ini adalah beberapa permainan saya bermain, beberapa muslihat yang rumit untuk mendapatkan perhatiannya. Itu mungkin. Dia ingat Puluh Dua, dan ia melihat saya di bank, mungkin dia suka saya, dan saya berbicara kepadanya tentang hal-hal seperti itu membuatnya merasa canggung. Semua ini akan melalui pikiran saya sebagai dia berbalik untuk pergi, tapi ada sesuatu yang lain, sesuatu yang saya tidak bisa menjelaskan. Saya tidak mendaftar kemudian, tidak dalam kata-kata, tapi saya berpikir bahwa adalah ketika saya tahu dia sudah pergi dan bahwa siapa pun tidak ada yang bisa mengatakan kepadanya akan membuat perbedaan sedikit dengan apa yang dia lakukan selanjutnya. Karena, untuk semua yang paling biasa, semua alasan yang paling dangkal, ia ditakdirkan. Dia adalah seorang, tidak bersalah menyebabkan hilang, orang asing di tempat-satunya yang pernah dikenal, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam keadaan yang berbeda, Arthur McKechnie akan menjadi salah satu dari orang-orang yang Anda baca di koran: anak skizofrenia yang melompat keluar dari jendela berpikir ia bisa terbang, penjelajah gila yang melintasi Kutub Utara dengan hanya ransel dan sepasang crampon. Dia melirik kembali seperti dia pergi, dan aku bisa melihat bahwa ia tahu juga seperti yang saya lakukan bahwa tak ada lagi yang bisa dikatakan, tapi ia mengatakan anyway. "Sampai ketemu," katanya.

Satu jam kemudian, Stan menangkapnya. Aku cukup yakin Stan tidak bermaksud untuk menyakiti saudaranya sendiri separah seperti dia, tidak over sweter dipinjam. Tapi itu bukan niat bahwa penting. Dia seharusnya telah memberitahu polisi bahwa ia tidak ingat apa yang dia lakukan malam itu, tapi ada sekitar belasan saksi, dan mereka semua memberi lebih atau kurang account yang sama: Arthur telah ke Pos Gizi, dan ia berjalan kembali rumah ketika ia bertemu Stan luar tempat kebab di Gloucester Road; Stan sudah berlari, berteriak dan melempar pukulan; Arthur baru saja berdiri di sana, tidak mengatakan apa-apa, mengambil beberapa pukulan pertama seolah-olah itu semacam permainan dan dia itu tampak aneh di wajahnya, orang-orang kata, setengah tersenyum aneh yang tak bisa mengerti, meskipun mereka semua melihatnya, dan mereka semua mengatakan hal yang sama setelah itu, bahwa itu adalah senyum yang dibuat Stan gila, yang aneh sedikit senyum yang tampaknya untuk mengatakan Arthur tidak akan mengambil apa yang sedang terjadi serius, bukan kemarahan Stan atau pukulan hujan di atas dirinya. Beberapa orang yang melihat semua itu katanya harus menjadi sederhana sedikit, hanya untuk berdiri menyeringai seperti itu, memprovokasi penyerang dan tidak melakukan apapun untuk membela diri.

Setelah selesai, Stan tidak melakukan usaha serius untuk menjauh. Dia berdiri sebentar, memandang berkeliling pada sekelompok orang yang telah menonton itu semua, seolah-olah ia terkejut mereka tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya. Orang-orang mengatakan sesudahnya bahwa mereka mengira Arthur sudah mati, cara dia hanya berbaring di sana di trotoar, semua memutar tubuhnya dan tidak bergerak. Orang-orang yang berada di sana di awal tahu bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk menghentikannya, tetapi mereka semua hanya berdiri menonton, sekitar delapan atau sepuluh awal dan kemudian lebih, antrian seluruh dari toko kebab menuangkan ke perkerasan terhadap melihat apa yang terjadi. Tak satu pun dari mereka berusaha untuk menghentikan serangan, dan tak seorang pun mencoba memegang Stan ketika dia berpaling dan berjalan menuruni jalan. Dia tidak berjalan, ia bahkan tidak terburu-buru. Seseorang kemudian mengatakan bahwa dia bisa saja keluar untuk berjalan-jalan, kecuali bahwa ia memiliki darah seluruh mantel dan tangan. Dia tidak pergi ke arah rumah, ia berjalan ke arah lain, dan ia tidak berhenti berjalan sampai polisi menjemputnya, satu jam kemudian. Ketika mereka membawa dia di, tampaknya, dia mengatakan kepada mereka ia tidak bersungguh-sungguh. Ia tidak tahu apa yang dia lakukan, katanya. Dia hanya melihat merah.


Stan Setelah ditangkap, Marie tidak mau meninggalkan rumah. Semua orang berbicara tentang apa yang telah terjadi, bercerita lama tentang beberapa hal yang buruk Stan telah dilakukan di masa lalu, tentang obat menangani dan pecah dan masuk ketika ia masih di sekolah, atau bahwa waktu dengan Cronins dan Bobby Curran di Swan . Beberapa orang yang telah menyaksikan serangan orang-orang yang telah berdiri dan melakukan apa-apa-yang bahkan mengatakan Stan turun sedikit, karena ia seharusnya sudah Facebook percobaan pembunuhan bukan GBH Sementara itu, Marie tinggal pergi kerja dan duduk di kamarnya dengan radio, meskipun aku ragu dia pernah mendengarnya. Kadang-kadang dia datang di lantai bawah, masih dalam piyama dan rias gaun di tengah sore hari. Dia tidak mengatakan banyak, dan ketika dia berbicara ia akan mengatakan hal gila. "Aku berharap aku bisa menghilang," begitu dia bilang. "Saya berharap bumi hanya akan terbuka dan menelan aku."

Kita semua tahu bahwa sesuatu harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari depresi ini, tapi tidak ada yang ingin mengambil langkah pertama. Jadi kami menunggu. Kadang-kadang aku akan berbicara dengan Mum, mana kita akan pergi melalui semua argumen biasa, maka salah satu dari kita akan mengatakan sesuatu yang meyakinkan, dan kami akan melanjutkan dengan hidup kita. "Itu akan lulus," Mum akan berkata. "Dia pasti akan kecewa setelah semua." Atau aku akan menunjukkan bahwa saudaraku, duduk di lantai atas dalam gaun rias, adalah lebih baik, sekarang Stan berada di balik jeruji. "Kalau itu yang ia bisa lakukan untuk saudaranya," Saya akan mengatakan, memulai kalimat saya tidak akan pernah harus menyelesaikan, dan menunggu sedikit meringis horor yang menandakan perjanjian nya. Saya tidak mengatakan kami tidak peduli. Hanya saja kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan kita tidak bisa benar-benar menghadapi kejanggalan yang harus mencari tahu. Sementara itu, Marie sedih, dan kami pergi tentang bisnis kami, pura-pura tidak ada yang salah.

Mereka mungkin melakukan hal yang sama dalam rumah tangga McKechnie. Si anak sulung sudah terkunci, dan saudaranya berada di sebuah bangsal rumah sakit; semua orang tua hanya bisa duduk di dalam ruangan dan harapan dunia melewatinya dengan sampai menemukan sesuatu yang lain untuk dibicarakan. Bahkan saudari malu Stan apa yang telah dilakukan, dan mereka selalu menyayangi dia. Saya dengar mereka semua pergi sebagai keluarga untuk mengunjungi Arthur di rumah sakit, dan dia bahkan tidak mau melihat mereka. Dia hanya menunggu sampai dia cukup sehat, maka dia datang ke bank, menarik semua uang yang tersisa di account-nya, dan berjalan kembali keluar ke sore abu-abu, untuk Tuhan yang tahu di mana. Itulah saat terakhir aku melihatnya, hari itu ia datang untuk uang, dan ia telah gelap, atur melihat matanya yang takut saya sedikit. Dia tidak datang ke posisi saya untuk membuat penarikan ia menunggu sampai kasir lain bebas dan pergi kepadanya. Ketika dia sudah selesai transaksi tersebut, dia meletakkan uang di saku mantelnya dan menggumamkan sesuatu pelan, kemudian dia pergi, bahkan tanpa melirik ke belakang. Tak ada yang tahu di mana ia pergi. Cara terbaik untuk memikirkan hal tersebut adalah bahwa ia hanya menghilang.



Minggu sebelum Natal, salju turun lagi. Aku pergi ke toko-toko, dan aku berjalan pulang, melintasi taman di Weymouth Road ketika mulai, tebal dan cepat sejak saat itu mulai jatuh, menetap di rumput dan, tipis semak basah di sekitar taman bermain. Itu terus jatuh di sepanjang jalan, kapur sirih keluar taman, berbaring di lipatan tebal di pagar, dan aku tidak bisa membantu tetapi memperlambat langkah saya, hanya untuk keluar dalam segala hal yang putih, menonton hal melebur menjadi gerakan ini terus-menerus, sehingga tebal dan cepat pada saat aku sampai ke gerbang depan saya sendiri bahwa saya tidak bisa melihat. Semuanya menghilang ke dalam aliran itu, rumah dan mobil yang diparkir dan trotoar; belakangku, kota itu hanyalah rumor, aftertaste samar besi dan asap dan bayangan massa berkurang menjadi badai salju. Di gerbang, aku melihat kembali ke arah aku datang dari. salju itu benar-benar berbeda sekarang dari salju kita punya pada bulan November: saat itu, sudah semua merek kecerahan dan terlihat, trek dan scuffs dalam putih berpaling ke prem biru dan hitam sebagai kegelapan jatuh, tapi ini gelap dari pertama, varian baru dari gelap, bentuk baru. Bahwa salju pertama telah menjadi salju dalam sebuah film, ini adalah salju dalam mimpi.

Saat itu dingin. Aku tidak melihat keluar, tapi aku merasa sekarang, sebuah merembes dingin murni ke dalam tulang saya-dan sebagai salju terhapus kebun di sekitar saya, saya bisa merasakan dingin ini murni singling saya keluar, mengisolasi saya di jalan itu dan menghapus saya , serpihan oleh serpihan, saat ke saat. Marie telah mengatakan ia ingin menghilang, tapi ia tidak bersungguh-sungguh: apa dia benar-benar inginkan adalah kembali ke waktu sebelum dia bertemu Stan, ketika hidup terasa penuh kemungkinan. Dia tidak ingin menjadi tak terlihat, dia ingin dilihat sebagai dia melihat dirinya, bukan sebagai karakter dalam sebuah kisah berita lokal. Dia ingin menjadi baik. Ketika dia berbicara tentang menghilang, ketika dia bilang dia berharap bumi akan menelan tubuhnya, aku tahu bahwa rasa malu tidak akan bertahan, dan tidak akan banyak masalah, dalam waktu satu tahun, apa yang terjadi padanya. Dia akan bertemu orang lain, dan dia akan menikah dan hidup sebagai ibu kami telah hidup, orang akan berpikir sebagai istri seseorang, dan kemudian ibu seseorang, dan dia tidak akan terlihat, pernah.

Tapi aku akan. Saya akan terlihat. Itu sudah terjadi, di salju, tak kenal lelah cepat; aku sudah menghilang, dan tidak hanya menghilang ke dalam putih itu, tetapi ke dalam segala sesuatu di sekitar saya. Seperti hantu dalam sebuah film, meleleh ke pemandangan, aku mulai menghilang dari kehidupan saya, bukan dengan pergi ke suatu tempat tetapi hanya dengan menginap di mana aku berada dan melakukan apa yang telah selalu dilakukan. Bekerja di bank, membuat makan malam, membaca buku-buku saya, berenang di Dua puluh Dua di musim panas, berjalan di salju di musim dingin. Ini ada hubungannya dengan Arthur, semua ini lenyap, yang konyol, tapi juga benar. Tidak seperti Marie, aku tidak ingin bumi untuk membuka dan menelan aku, tetapi pada saat aku tahu aku sudah mulai memudar-dan itu bukan firasat buruk, setelah semua, untuk menjadi menghilang. Ini wasn'ta hal yang buruk, dan mungkin itu semua pernah saya inginkan. Untuk tinggal di mana aku dan menghilang ke wallpaper. Untuk ingin apa-apa-bukan pekerjaan yang baik, bukan suami atau anak-anak. Bukan uang atau kebahagiaan. Bukan apa yang orang tua saya akan disebut masa depan. seluruh hidup saya akan seperti pagi-pagi saat tukang pos datang dan berdiri di pintu, memilah-milah tumpukan kartu dan surat-surat, ia berpikir tidak ada orang yang di rumah, karena rumah ini begitu tenang, tetapi seseorang di dapur sepanjang waktu , mendengarkan dia meraba-raba dengan mail saat ia membuat teh, atau roti bakar mentega, tidak cukup bahagia, jika anda ingin berbicara tentang kebahagiaan, namun tidak bahagia, baik. Ini bukan jenis hal yang Anda lihat dalam film atau di televisi, tapi sepertinya baik untuk saya, karena saya berdiri di salju, menghilang kentara ke dalam kehidupan saya tidak memilih tapi tidak akan menolak, sekarang aku tahu apa itu.

Ketika saya masuk ke dalam, saya menemukan Marie berdiri di dapur, mengamati ketel mendidih. Wajahnya putih dan kosong, tidak ada make up, rambutnya berantakan. Jendela semua berkabut Facebook, dan aku sadar bahwa ia mungkin sudah duduk di sana sebentar.

"Apakah kau oke?" Tanya saya.

Dia menatapku, tapi dia tidak berbicara. Dia telah berada di tengah-tengah membuat teh, tampaknya, ketika saya masuk, tapi ia sudah lupa apa yang dia lakukan, atau mungkin memutuskan bahwa ia tidak bisa diganggu.

"Bisakah saya mendapatkan sesuatu?" Saya bertanya.

Dia menggeleng. "Aku terus berpikir tentang Stan," katanya.

Aku mengangguk. "Tentu saja," kataku. Aku maju selangkah lebih dekat. Aku berpikir tentang menjangkau dan menyentuh dia, di lengan, atau bahu, kemudian memutuskan untuk tidak melakukannya.

Dia tertawa lembut. "Itu tidak cocok untuknya," katanya. "Saya katakan kepadanya ketika dia membelinya. Aku berkata segera, ketika ia mencobanya, "Ini tidak sesuai dengan Anda, Stan." "Dia menatapku. "Bagaimanapun," katanya. "Itu hanya sweter."

Aku mengangguk lagi. Aku tidak tahu harus berkata apa, dan aku ingin menyeberang ke melakukan sesuatu dan, tapi aku tidak tahu apa. Setelah beberapa saat, saya mengambil kantong teh turun dari lemari, dan selesai membuat teh. Lalu aku menaruh enam potong roti di pemanggang. Itu tenang sekarang, tidak ada bicara, tidak ada suara, hanya diam kontinum salju di jendela-dan saya ingin membuat dia melihat betapa indah itu, jika tidak selalu, maka setidaknya untuk sekarang, tapi ketika aku berbalik dia tertidur di kursinya, kepalanya menjatuhkan diri ke belakang, tangannya tergantung di sisi tubuhnya. Rasanya seperti tindakan penyeimbangan, sesuatu yang dia disempurnakan selama bertahun-tahun, dan tidak peduli seberapa sulit ini tampak aku tahu dia tidak akan jatuh. Aku dianggap mengambil teh saya melalui ke ruang duduk, tapi aku memutuskan untuk tinggal dan menemaninya. Mungkin ia akan segera bangun, dan jika dia mungkin dia akan lapar. Itu akan menjadi pertanda baik, pikirku. Itu selalu pertanda baik dalam buku-buku ketika orang yang telah depresi mulai makan lagi. Ini adalah awal dari sesuatu: kehidupan baru, pemulihan.

Aku meletakkan enam irisan lebih dari roti ke dalam pemanggang dan mengambil selai dan pot baru selai kismis hitam dari lemari. Ketika itu semua siap, aku membawa cangkir saya dan dua piring baru roti mentega ke meja, satu untuknya dan satu untukku. Aku lapar sekarang, dan saya segera makan porsi saya buat sendiri, tidak mengganggu dengan selai, hanya menikmati rasa mentega hangat dan renyah, roti panggang segar. Enak sekali, seperti sesuatu dari masa lalu, beberapa kesenangan kecil. Lalu, ketika saya selesai itu, saya menuangkan teh, dan karena aku masih lapar, dan karena aku benar-benar merasa bahagia, duduk di sana dalam keheningan, melihat salju, aku menyelinap pertama satu potong, lalu yang lain, maka semua roti panggang saya telah dibuat untuk Marie, dan memakannya dengan selai, sementara itu masih hangat. 